Tulisan isnawijayani

Beranda » Uncategorized » MEDIA LOKAL MERUBAH KEHIDUPAN MASYARAKAT

MEDIA LOKAL MERUBAH KEHIDUPAN MASYARAKAT

MEDIA LOKAL  MERUBAH  KEHIDUPAN MASYARAKAT

(Kajian di Palembang Sumatera Selatan)

ABSTRAK

ISNAWIJAYANI[i]

Tulisan ini  merupakan kajian penulis dan bertujuan untuk menggambarkan kondisi masyarakat Sumatera Selatan dalam kehidupannya bermedia setelah  reformasi untuk media cetak dan setelah dilahirkannya Undang-Undang No 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran .

Dengan menggunakan metoda penulisan kualitatif, penulis mengamati perubahan kehidupan masyarakat besama suratkabar lokal dan  televisi lokal swasta. Disamping pengamatan, penulis melakukan wawancara mendalam dengan wartawan, pengelola media, pengguna, akademisi,  ibu rumahtangga .

Awalnya masyarakat tidak begitu perduli akan media, lama kelamaan masyarakat berlomba-lomba untuk diberitakan dalam pemberitaan suratkabar dan televisi ataupun advertorial agar diketahui kegiataan apa yang dilakukan, serta menjadi kebanggaan.  Hal ini sesuai dengan teori kebutuhan hidup Abraham Maslow akan pujian dan aktualisasi diri. Dengan pendekatan Uses and gratification sesuaii dengan orang menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya. Disini terjadi perubahan kognitif dalam masyarakat. Dengan  Kultivasi,  adanya media lokal menumbuhkan  kembangkan budaya lokal yang tadinya semakin terpinggirkan, rusak atau dianggap hilang, karena terpaan media lain. televisi menjadi media pembelajaran tentang masyarakat dan budaya lingkungannya.

Sisi negatif media  dan pengguna  selalu menghendaki berita advertorial, walau harus membayar. Untuk televisi melahirkan biaya liputan. Yang penting  masuk dalam pemberitaan.

Perlu media literasi bagi seluruh masyarakat.

Kata kunci: media lokal, kebutuhan hidup, media literasi

Pendahuluan

Setelah reformasi di Indonesia, terjadi perubahan disegala bidang, bukan saja dunia politik, ekonomi sosial dan sebagainya tetapi juga dalam dunia media dan informasi. Di Palembang Sumatera Selatan kini masyarakat sudah biasa hidup berdampingan dengan suratkabar dan televisi. Perubahan ini mulai terjadi setelah pemerintah memberikan reformasi kebebasan pers, tepatnya tanggal 5 Juni 1998.  kebebasan untuk mengemukakan pendapat melalui media massa,  setelah 32 tahun terkekang (Wijayani:2003). Dan dengan televisi setelah diberlakukan  UU No 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.yang memperkenankan membuat televisi lokal, baik swasta, berlangganan dan komunitas.

Sebelum reformasi, masyarakat di Palembang sudah ada minat baca tetapi belum tumbuh minat membeli. Padahal orang Palembang terkenal berkantong tebal. diibaratkan lebih suka membeli empek-empek yang terkenal cita rasanya daripada membeli suratkabar.  Ada 6 suratkabar yang tidak setiap hari terbit, maka setiap hari yang beredar dan dijual suratkabar terbitan jakarta. Palembang dibelah Sungai Musi, Ilir dan Ulu. Pusat kegiatan kota dibagian ilir. Oleh karena itu orang Ulu pergi ke kota atau bagian ilir untuk mendapatkan suratkabar.

Sebelum tahun 2005, orang Palembang mendapatkan siaran 11 TV dari Jakata termasuk TVRI Sumsel.  Setelah itu lahir PALTV, yang  pertama kali siar pada 9 September 2005, melayani masyarakat Palembang dan sekitarnya dengan program-program acaranya yang berpihak pada budaya dan kearifan lokal masyarakat Palembang. Sampai tahun 2012 Palembang telah memiliki koran harian, mingguan, dan jenis penerbitan lainnya serta memiliki satu stasiun TVRI dan 3 televisi swasta lokal, dan puluhan radio siaran.

Koran besar yang banyak beredar adalah Sumatera Ekspres dan Sriwijaya Post,  Televisinya Pal TV dan Sriwijaya TV. Koran dan televisi inilah yang menjadi kajian penulis untuk melihat perubahan kehidupan masyarakat dalam bermedia Media ini dianggap yang mempunyai kesempatan yang dalam memberi pembaharuan bacaan dan tontonan kepada masyarakat Sumatera Selatan.

Tinjauan Pustaka,

Dengan pendekatan Uses and gratification sesuai dengan orang menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan untuk eksistensi. Manusia memiliki kebutuhan dasar untuk berinteraksi social. Untuk itulah kemudian individu menonton televisi dan membaca suratkabar.. Setelah itu dapat menimbulkan ketergantungan dan perubahan kebiasaan (McQuail, 1995).  Disini terjadi perubahan kognitif dalam masyarakat. Dengan  Teori Kultivasi,  adanya media lokal menumbuhkan  kembangkan budaya lokal yang tadinya semakin terpinggirkan, rusak atau dianggap hilang, karena terpaan media lain.. Televisi menjadi media pembelajaran tentang masyarakat dan budaya lingkungannya. Orang dalam kehidupannya sangat dipengaruhi siaran televisi dalam mempersepsi kehidupan. Televisi merupakan sarana utama untuk belajar tentang masyarakat dan kultur budaya. Melalui kontak  dengan televisi  orang belajar tentang dunia, nilai-nilainya serta adat kebiasaannya. (Ardianto dkk, 2007:66). Setelah adanya tv lokal,maka produk lokal banyak mengisi program  tv swasta lokal. Budaya-budaya lokal yang mulai hilang kini muncul lagi.. Dominick (2000) televisi sebagai media massa berperan penting dalam menyebarkan nilai-nilai sikap, persepsi dan kepercayaan. Budaya, Sosial, dan Politik sangat  dipengaruhi media (Agee, 2001)

 Metode,

Dengan menggunakan metoda penulisan deskriptif kualitatif, penulis mengamati perubahan kehidupan masyarakat besama suratkabar lokal dan  televisi lokal swasta yang berdampingan denga stasiun TVRI Sumsel. Disamping pengamatan, penulis melakukan wawancara mendalam dengan wartawan, pengelola media, pengguna, akademisi, politisi, mahasiswa, ibu rumahtangga .

Penulis menggunakan Teknik pengumpulan data dan informasi yang dibutuhkan  dengan cara: Observasi Lapangan, melihat realita yang terlihat oleh subjek. Memungkinkan penulis sebagai sumber data. Pengamatan juga memungkinkan pembentukan yang diketahui bersama, baik dari pihak peneliti ataupun nara sumber. Dalam penelitian ini penulis melakukan pengamatan langsung dengan  membaca koran dan menonton televisi.

Hasil dan Pembahasan

Suratkabar dan televisi yang diamati secara berkelanjutan  mempublikasikan keperdulian terhadap nilai-nilai lokal dalam realitas medianya. Kuatnya daya tarik nilai lokal terhadap pasar karena kedekatan peristiwa dan emosi.  Disisi  lain, dalam menyongsong pilkada kunci keberhasilannya adalah peranan  media, terutama media lokal. Ternyata masyarakat Palembang yang tadinya jauh dari media karena fungsi pendidikannya sekarang media menjadi kebutuhan hidup sehari-hari.  Suratkabar dan televisi memberi informasi dan interpretasi yang terjadi di Sumatera Selatan. Iklan digunakan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan, dan bersantai, bangga masuk dalam media yang meningkatkan gengsi sosial serta sebagai media penghubung dalam berkomunikasi.

Dalam hal media penghubung, terjadi komunikasi interaktif masyarakat, media dengan adanya tawaran dari media,diantaranya ::

  1. a.       News By Request,  Sripost Interaktif, Koran Panduan: Pembaca yang budiman, tim liputan khusus kami mengundang anda member informasi untuk dijadikan berita di harian ini. Informasi bisa terkait pengalaman pribadi, hobi, komunitas, pekerjaan, perjalanan wisata. Baik info yang menghibur sampai control sosial kebijakan pejabat atau dugaan korupsi, di lembaga instansi tertentu. Kontak dan tim liputan akan datang. Ada Advertorial yang member ruang bagi masyarakat untuk menuangkan kegiatannya dengan membayar.
  2. b.       Suplemen Sumatera Ekspres Pemilukada, Juga meminta tulisan dari masyarakat tentang seluk beluk Pemilukada untuk menulis artikel opini tentang pemilu, khusus pilkada sumsel 2013. Ada New Society Biz, (Sumeks) seluruh isi materi iklan diluar tanggungjawab penerbit.  masyarakat dapat menginformasikan kegiatannya dengan membayar ruang yang disediakan. Ada Xpresi yang member kesempatan anak-anak SMA menulis dan menjadi wartawan tentang kehidupan remaja.

Permintaan seperti ini bagi masyarakat menjadi pembelajaran untuk mengekspresikan ide dalam tulisan tentang apa yang diinginkan dan dialami

  1. c.       PALTV dan Sriwijaya TV, secara bersamaan menyajikan acara talkshow, berita dan nyanyi bersama serta iklan, dengan Bahasa Palembang. Banyak mengangkat  peristiwa-peristiwa lokal yang belum tentu disiarkan sebelumnya oleh televisi-televisi Jakarta. Yang tak kalah pentingnya adalah diangkatnya lagu-lagu Batanghari Sembilan dari seluruh Sumatera Selatan, Kesenian Dul Muluk, adat Perkawinan, dan pantun-pantun lama.  Keduanya bersiaran dari pagi hingga malam hari. Dalam acaranya banyak yang menggunakan sponsor dan didalamnya bermuatan politik, misitik, dan pengobatan alternatif.

Dikaitkan  dengan teori Kultivasi siaran-siaran yang disajikan dapat mengimbangi, siaran lain yang bukan lokal.

. Untuk mengetahui ada perubahan kehidupan setelah diterpa media, berikut pendapat nara sumber yang dihubungi penulis:

  1. Nara sumber pertama Yanti (33), ibu rumahtangga yang tinggal di Plaju Seberang Ulu, mengatakan bahwa dulu dirinya tidak suka membaca Koran, karena tidak pernah mendapatkannya. Kalaupun ingin membeli harus ke pasar Plaju atau ke Jalan Sudirman. Saya juga tidak tahu Koran apa namanya. Kalau sekarang saya mengenal Koran Sumeks (Sumater Ekspres) dan Sripost (Sriwijaya Post) yang mudah didapatkan.di Seberang Ulu. Koran  banyak dijual hampir disemua lampu merah, Keluarga saya berlangganan Sumeks. Sekarang ini jika  mau membeli atau mendapatkan sesuatu, saya  cukup baca iklan.

Untuk televisi, di daerah kami paling menyukai PALTV karena ada yang meggunakan bahasa Palembang, lucu, menarik, Kami terhibur menontonnya. Apalagi programnya pakai istilah wong Palembang seperti Cik Eka dan Kiyai Najib. Kami bisa ikut nyanyi berkaraoke dan iklannya juga lucu-lucu membuat kami tertawa dengan bahasa Palembangnya.

  1. Nara sumber kedua Drs. Paruhuman Bangun Lubis, MSi, (51) wartawan Suara Pembaharuan Jakarta, menurut pengamatannya mengapa Koran lokal hidup di Palembang karena ia memberikan produk informasi yang hendak diketahui masyarakat. Orang banyak membacai Sumeks dan Sripost.

Bukan hanya Kepala Dinas Instansi, Kalangan pendidik perguruan tinggi atau SD sekalipun dan pengusaha dalam pengamatannnya mengalokasikan dana untuk diberitakan dalam advertorial. Kalau seseorang dalam kegiatannya dimuat dalam Koran menjadi kebanggaaan dan merasa hidup bermakna. Dan orang yang membaca akan memuji dengan kata hebat atau luar biasa. Media sangat berkaitan dengan industry dan mekanika pasar. Iklan dan advertorial atau berita yang dibayar inilah yang suratkabar dan tv memiliki uang banyak. Disisi lain pihak pemerintah, partai politik, dan pebisnis ikut masuk dalam pemberitaan.

Dalam operasionalnya membuat media dan wartawannya kurang menjunjung tinggi etika dan profesionalismenya. Nampaknya media belum menjadi lembaga ekonomi yang sehat dan belum mampu memberi kesejahteraan untuk wartawannya. Sering melakukan transaksi berita dengan mengabaikan etika jurnalistik. Akhirnya karena masyarakat yang berubah cara berpikir, wartawanpun selalu tergoda demi ekonomi yang sering juga dimaklumi.

  1. Untuk memasukkan tulisan di advertorial, menurut Nara sumber ketiga     Ir. Hj. Triwidayatsih, MSi (47), Humas salah satu universitas ternama di Palembang, ia mengundang wartawan untuk meliputnya dengan menambahkan materi-materi yang harus dimuat sesuai arahan dari pimpinan. Bagaimana desainnya, biasanya dari pihak suratkabar yang membuat.`

Jika kegiatan universitas minta diliput untuk straight news, maka kami menyiapkan uang transport saja, hal ini dilakukan untuk membangun hubungan yang baik dengan media. Oleh karena itu jika terlanjur ada berita yang dapat merugikan lembaga, kami dapat meminta bantuan media untuk tidak diteruskan sambil kami melakukan pembenahan. Sebab kalau ada pemberitaan di media yang kurang berkenan dari lembaga kami, pasti yang disalahkan pihak Humas.

Publikasi di televisi, kami menyiapkan biaya produksi siaran dan uang transport petugas yang datang. Untuk televisi belum ada yang gratis.

  1. Nara sumber yang keempat adalah Cyntia Novanti (49), sekretaris salah satu bakal calon Wagub Sumsel. Dia mengatakan kami agak kaget ketika bertanya mengapa kami tidak dimasukkan dalam pooling yang dibuat oleh salah satu suratkabar. Pertanyaan itu kebetulan diungkapkan dalam satu kegiatan dialog dengan mahasiswa, yang ternyata lebih dari setengah pesertanya adalah para redaktur suratkabar di Palembang. Dengan tegas salah seorang  redaktur dari media tersebut meminta pasang iklan dulu baru diberitakan. Kalau tidak mau sampai kapanpun kegiatan ibu tidak akan terpublikasi. Mungkin ini yang disebut Pers Industri.

Cyntia berkata dalam hati, sebetulnya dia bersama bakal calon wagub sumselnya sudah menyiapkan sejumlah dana untuk publikasi kegiatan, tapi karena caranya yang tidak etis, maka secara spontan dia menjawab: silahkan saja tidak apa-apa tidak dimuat.

Untung sekretaris ini memiliki hubungan yang baik dengan wartawannya, maka berita kegiatannya masih dipublikasikan. Menurutnya media perlu untuk kegiatannya sebagai orang yang terjun di dunia politik.

Kalau untuk liputan televisi, kami selalu bayar, gak ada yang gratis.

  1. Nara sumber kelima adalah Yenny Roslaini Izi (40), Direktur Women Crisis Centre (WCC), ia berlangganan semua media suratkabar lokal. Kegiatannya banyak tentang kesamaan gender dan kekerasan terhadap perempuan termasuk dalam rumah tangga (KDRT). Menurutnya dia tidak menyediakan dana khusus untuk wartawan. Baginya tidak jadi masalah media mau memberitakan atau tidak. Kenyataannya mereka perlu pemberitaan dari WCC. Artinya kami tidak pernah membayar, baik itu untuk suratkabar ataupun televisi. Untuk menjaga hubungan yang baik dengan media kami skali-sekali mengajak berdiskusi untuk program yang kami laksanakan. Kalau wartawan ikut sbagai peserta dan peserta mendapat uang transport, maka transportpun kami berikan. Berkaitan dengan dana pemberitaan, mungkin kalau media dalam tanda kutip diajak berdiskusi, maka semuanya akan menjadi baik. Itulah pengalaman saya dengan media. Yang penting berkomunikasi dengan baik. Memberitakan sesuai program fakta yang dilaksanakan. Agar wartawan jangan sering salah menulis berita, wartawan harus banyak membaca dan belajar.
  2.  Nara sumber keenam adalah Ir. Yetty Fitri Zairani, MP.(49), Akademisi dari salah satu Universitas di Palembang. Sekarang informasi apa saja tentang Palembang dan Sumsel  mudah diketahui dari suratkabar yang terbit di Palembang. Banyak kegiatan yang dilakukan perguruan tinggi di kota ini kami ketahui dari berita-berita dan advertorial ataupun siaran televisi. Oleh karena itu kamipun mengikuti setiap ada kegiatan kami undang wartawan suratkabar dan televisi. Sekalian promosi untuk menarik minat masyarakat kuliah di tempat kami. Untungnya rektor kami mendukung publikasi seperti ini. Dengan kata lain lembaga kami menyiapkan dana untuk publikasi. Karena tanpa publikasi kami tidak akan dikenal orang.

Kami merasa senang dan bangga kalau ditulis dalam advertorial dan juga dalam siaran berita televisi, terutama acara wisuda dan seminar-seminar, serasa bergengsi, walau harus keluar dana.

  1. Nara sumber ketujuh adalah Hilda Syafitri, S.Sos (43), Sekretaris Redaksi Harian Sumeks. Kami sudah menjadi Koran terbesar di Sumatera Selatan dan telah menjadi industri, maka segala sesuatunya dihitung untuk mencari keuntungan. Kalau dulu perbandingan berita dengan iklan adalah 65%:35%, maka sekarang dapat kebalikannya yaitu iklan 65%. Tentang halaman opini yang sering bercampur dengan berita dan iklan, kami tidak mengutamakan opini, yang penting profit, sebenarnya tidak boleh tapi tetap berlangsung.  Walau demikian kami tetap menjalankan kontrol social, berita-berita berbau KKN tetap kami tindaklanjuti. Kami tetap bekerjsama untuk membangun bangsa.
  2. Nara sumber kedelapan adalah   I Ketut Suryana Yasa,SE, MM.(45), indikator kemampuan masyarakat Palembang dalam beriklan dapat dilihat langsung dari survey setiap tahun naik 10-20%, berarti setiap tahun ada kenaikan. Awalnya kami bermitra membuat jaringan terlebih dahulu kemudian dalam bermitra itu ada timbal balik. Artinya pada tahun pertama promosi, dan masuk tahun ke 3 perlu dana biaya ada sehingga mulai dihitung kontribusinya. Berita-berita seremonial dalam satu minggu pasti ada, tapi tidak harus dengan pemerintah daerah.

Dalam fungsi mendidik, kami bekerja sama dengan Universitas Sriwijaya  dan Universitas Bina Dharma untuk kewirausahaan. Mengadakan Workshop Jurnalis dan mengadakan acara masak di 15 kecamatan secara off air yang ditayangkan terjadwal. Kami siaran setiap hari 24 jam berjaringan dengan Bali TV.

Kami sangat disiplin dengan administrasi keuangan, kalau ada yang menyimpang langsung kami berhentikan. Dan karyawan tidak boleh menerima uang tanpa tagihan resmi. Kerjasama dengan masyarakat jika terindikasi ketidakpastian, maka kami tidak melanjutkan kerjasama yang sudah terjalin.

  1. Nara sumber kesembilan adalah Aan Sartana, SH, wakil General manajer PALTV, Program-programnya banyak mengangkat budaya-budaya lokal yang sempat tenggelam. Melalui PAL TV, kami mengajak dan mendidik masyarakat menjadi MC, Presenter, pembaca berita. Kami menyajikan iklan-iklan, berita, lagu-lagu berbahasa Palembang. Kami juga mengajak masyarakat berdiskusi melalui talk show yang dipandu dengan gaya kelakar Palembang. Karena media ini menjadi media industri kami mengadakan kontrak kerjasama menjual durasi siaran dengan sponsor. Masyarakat sekarang sudah mau membayar iklan untuk siaran produknya. Liputan kami harus dibayar.
  2. Nara Sumber kesepuluh Alamsyah SIP.MSi (37) dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNSRI, Menanggapi permintaan media tentang Pemilukada. Bagi dosen, menulis, sudah menjadi tugas  sebagai akademisi untuk mengawal proses pemilu agar lebih demokratis. Artikel opini bagian dari jihad bil qolam. Inisiatif Sumeks untuk membuka suplemen khusus pilkada merupakan inovasi yang harus diapresiasi secara positif. Harapan Alamsyah mewakili para dosen,, di masa mendatang, suplemen  tidak hanya sebatas pilkada, tetapi meluas ke isu-isu publik lainnya – misalnya, isu MDGs, kearifan lokal, kepemudaan, integritas, dan lain sebagainya. Sebagai wujud apresiasi itu, sewajarnya jika dosen memanfaatkan ruang yang diberikan Sumeks untuk membangun discourse positif terkait dengan pemilu/pilkada di Sumsel. hasilnya tentu saja: proses pemilu menjadi lebih demokratis, baik secara prosedural dan/atau subtantif. Berkaitan dengan permintaan ini beberapa dosen dari dua perguruan tinggi di Sumsel berkesinambungan  mengirimkan tulisannya.

Dalam pengamatan penulis, dilihat dari sudut pandang ruang publik, jumlah media belum tentu menjamin terpenuhinya content yang menjadi kepentingan publik.  Media dengan biaya tinggi bertujuan memaksimalkan keuntungan, mengurangi biaya, dan meminimalkan resiko. Yang nampak hegemonisasi dan trivialisasi (membuat sesuatu yang tidak penting). Suratkabar dan televisi dapat memperkenalkan, membentuk, dan menanamkan pandangan tertentu kepada khalayak. Apa yang diberitakan dalam suratkabar,  televisi  dapat direkayasa, sesuai keinginan dan tujuan yang dikehendaki  ditambah fakta-fakta pendukung.

Apapun yang terjadi, melihat fenomena ini, televisi telah dijadikan media dalam menyampaikan pendidikan apapun. Sementara Model Uses and Gratifications, menentukan fungsi komunikasi massa dalam melayani khalayak. Orang tidak akan menggunakan suratkabar dan televisi jika  tidak memberikan pada pemuasan kebutuhannya. Orang menonton televisi karena didorong oleh motif-motif tertentu. Ada berbagai kebutuhan yang dapat dipuaskan oleh media massa, pada saat yang sama kepuasan itu didapatkan dari sumber-sumber yang lain. Orang mencari kesenangan, televisi dan suratkabar memberikan hiburan. Jika mengalami goncangan batin, suratkabar dan televisi memberi kesempatan untuk melarikan diri dari kenyataan. Kita kesepian, suratkabar dan televisi berfungsi sebagai sahabat. Tentu saja hiburan, ketenangan, dan persahabatan dapat juga diperoleh dari sumber-sumber lain seperti kawan, hobi, atau tempat ibadah. (Rakhmat, 1999:207)

Walaupun media berkembang di Palembang, secara awam orang tidak melihat, adanya yang kurang berkenan. Agar masyarakat dapat melihatnya  diperlukan media literasi melek menurut,  Centre for Media Literacy (2003), memberi kemampuan berpikir kritis terhadap isi media terdiri: kemampuan mengkritik media, produksi media, mengajarkan tentang media, mengeksplorasi sistem pembuatan media, mengeksplorasi berbagai posisi dan berpikir kritis atas konten media.. Khalayak perlu diberi kemampuan, pengetahuan, kesadaran, dan ketrampilan secara khusus. Semua ini dapat dilakukan oleh siapa saja dari komunitas apapun, seperti ibu rumah tangga, orgnisasi wanita, guru, dosen, dan organisasi kepemudaan , pengajian, dan sebagainya termasuk sumber daya manusia dalam media itu sendiri.

Kesimpulan

  1. 1.     Media memiliki kekuatan yang powerfull dalam mengatur informasi yang dapat merubah kehidupan masyarakat, menumbuhkan minat dan daya beli masyarakat. Mendidik apa saja baik dan buruk.
  2. 2.     Dengan hadirnya televisi dan suratkabar lokal yang kian berkembang di Palembang, menumbuhkan lapangan kerja baru dan usaha-usaha lain menjadikan media sebagai pers industri
  3. Masyarakat memiliki harapan dan kepercayaan terhadap media, sehingga berminat untuk dipublikasikan dalam suratkabar dan televisi dengan membayar ruang yang tersedia
  4. Masalah etika dan professional menjadi masalah serius yang harus segera ditanggulangi oleh media dan organisasi profesi seperti PWI. Terutama menghadapi Pemilukada. Akan lebih baik jika wartawan hanya bekerja untuk berita.
  5. Perlu media literasi kepada insan media dan masyarakat

 Daftar Pustaka.

Agee, Warren K, Philip H. Ault dan Edwin Emery, 2001, Introduction To Mass Communications, New York: Longman

Ardianto Elvinaro dkk, 2007,  Komunikasi Massa, Bandung: Simbiosa Rekatama Media

Dominick, Joseph R, 200, The Dynamicsof Mass Communication, New York: Random House

McQuail, Denis, 1991, Teori Komunikasi Massa, Suatu Pengantar, Jakarta: Erlangga

Rakhmat Jalaluddin, 1999, Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Karya

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan, bahwa :

  1. Karya tulis ini murni gagasan, rumusan, pemikiran dan penelitian saya sendiri tanpa ada unsur plagiat.
  1. Karya tulis ini belum pernah dimuat/dipublikasikan di media cetak (jurnal lain) dan belum pernah dipresentasikan pada kegiatan ilmiah bertaraf nasional maupun internasional.
  1. Dalam karya tulis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis atau dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dengan disebutkan nama pengarang dan dicantumkan dalam daftar pustaka.
  1. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila di kemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi kode etik atau sanksi lainnya sesuai dengan norma yang berlaku di lingkungan dunia pendidikan.

Palembang, 31 Des 2013

Yang membuat pernyataan,

ISNAWIJAYANI

 


[i] Guru besar Ilmu Komunikasi Universitas Baturaja Sumatera Selatan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: