Tulisan isnawijayani

Beranda » Uncategorized » AKU BELAJAR BANYAK DARI PKK

AKU BELAJAR BANYAK DARI PKK

Suka Duka Menjadi Kader Tim PKK Provinsi Sumsel  “AKU BELAJAR BANYAK DARI PKK”

 ditulis oleh :Hj. Isnawijayani

Kader Tim Penggerak PKK Provinsi Sumatera Selatan

 TIM PENGGERAK PKK PROVINSI SUMATERA SELATAN

PALEMBANG

2007

Suka Duka Menjadi Kader Tim PKK Provinsi Sumsel

 

AKU BELAJAR BANYAK DARI PKK

Hj. Isnawijayani

Kader Tim Penggerak PKK Provinsi Sumsel

PKK  dan Pengetahuanku

Aku mengenal sebutan PKK,  sejak sekolah dasar. Saat duduk di SMP ada juga pelajaran PKK yang mengajarkan setrika baju, menjahit, dan memasak, lalu ada 10 Program PKK yang harus dihafalkan. Kesimpulannya PKK adalah pelajaran ketrampilan bagi anak perempuan yang dilakukan sehari-hari dalam keluarga. Mata pelajaran ini berlaku juga bagi siswa laki-laki. Setelah selesai kuliah S1, menikah dengan PNS, mengharuskan aku sebagai seorang istri aktif di Dharma Wanita. Saat itupun terdengar adanya sebutan PKK, bukan pelajaran melainkan sebuah lembaga, tapi apa dan bagaimana tidak pernah mendapat perhatian. Yach.. bahasa sekarang ini dikenal dengan EGP “emang gue pikirin”

Seiring perjalanan waktu, aku bekerja sebagai dosen dan di media massa dan aktif di berbagai organisasi seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sumatera Selatan, Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB), Dewan Riset, dan lain-lain,  tidak ketinggalan  Dharma Wanita.

Mendekati selesai studi  S3 tahun 2002, tiba-tiba ada yang menelpon dan menyururuh datang ke Griya Agung ( rumah dinasnya Gubernur Sumsel). Wah… ada apa? dalam hati bertanya, apakah akan ada acara besar dan dijadikan panitia? atau aku melakukan kesalahan.  Saat dipersilahkan masuk, ternyata di ruang tamu telah duduk 5 orang ibu-ibu yang tidak aku kenal, tapi jelas yang satu adalah istri gubernur, dan sering dipanggil Bu Gub.

Nampaknya saat itu ada rapat kecil dan terdengar kata PKK. Masing-masing ibu yang hadir ditanya  latar belakang pengetahuan dan pengalamannya tentang PKK. Wah rata-rata menjawab sudah  berpengalaman dengan kerja PKK. Karena pengetahuanku tentang PKK hanya saat SD dan SMP saja, maka akupun menjawab belum banyak tahu apa itu PKK. Bu Gub langsung menggambarkan secara garis besar apakah PKK itu.  Aku iya-iya saja, termasuk saat ditanya apakah bersedia membantu di Tim P PKK? Akupun menjawab bersedia. Tapi bu, aku tidak dapat aktif penuh, karena masih harus pulang pergi meninggalkan Palembang untuk menyelesaikan studi, Oh… tidak menjadi masalah, sekarang kan ada telpon, ada HP, dimanapun ibu berada dapat dihubungi tambah salah seorang ibu. Yang penting tugas-tugas diselesaikan tanpa harus meninggalkan pekerjaan wajibnya, kata Bu Gub. Akupun tersenyum, dan berkata dalam hati, oke deh kalo gitu.

Esoknya, untuk yang pertama kali masuk ke kantor PKK Sumsel, Oh…my God, semuanya ibu-ibu “top”. Akankah mengerikan dan menyenangkan masuk kelompok ini? yang terbayang aduh… ibu-ibu cantik ini moga-moga baik hati dan semoga tidak judes. Ternyata bukan hanya itu, ibu-ibu ini trampil dan pandai-pandai melaksanakan program kerja PKK.  Jabat tanganpun dilakukan untuk memperkenalkan diri. Salah seorang wakil ketua memberi buku tentang PKK dan menyarankan aku untuk mempelajari, disamping langsung mengikuti kegiatan. Aku diberi jabatan sebagai HUMAS PKK.   Ternyata kegiatan PKK itu banyak ada kesekretaritan, Pokja I, Pokja II, Pokja III, dan Pokja IV, serta boleh dibuat kelompok khusus.

PKK atau Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga adalah gerakan nasional dalam pembangunan masyarakat yang tumbuh dari bawah yang pengelolaannya dari, oleh dan untuk masyarakat menuju terwujudnya keluarga yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia dan berbudi luhur, sehat sejahtera, maju dan mandiri, kesetaraan dan keadilan gender serta kesadaran hukum dan lingkungan.

Lembaga ini memiliki beberapa bagian secretariat dan pokja yang diketuai oleh istri gubernur. Sekretariat terdiri dari sekretaris, para wakil sekretaris dan tata usaha kantor. Para Para wakil sekretaris, bertanggungjawab terhadap tugas-tugas ketatatusahaan, prngorgaanisasian, perencanaan, SPEM, Humas dan Dokumentasi, Urusan rumah tangga.

Pokja I pelaksana kegiatan program Penghayatan dan Pengamalan Pancasila dan Gotong royong. Pokja II sebagai pelaksana program Pendidikan dan Ketrampilan serta Pengembangan kehidupan berkoperasi. Pokja III sebagai pelaksana kegiatan program pangan, sandang, perumahan dan tatalaksana rumah tangga. Pokja IV sebagai pelaksana kegiatan program kesehatan, kelestarian lingkungan hidup, dan perencanaan sehat. Sementara kelompok khusus (Poksus) tanpa menambah pokja baru, berada dalam lingkup sekretaris umum dan pokja-poka yang terkait. Yah.. program yang sangat luas sekali. Tapi aku tidak mau pusing, yang penting tugasku masuk dalam secretariat.

Menjalankan Program PKK

Setelah mendapat ijin dari tempat kerja, aku mulai mengikuti rapat-rapat PKK. Ada usulan PKK akan membuat sebuah majalah sebagai media komunikasi dan informasi kegiatan PKK dari dan untuk PKK. Diputuskan nama majalah adalah DAMAS singkatan Pemberdayaan Masyarakat. Terbit dua kali setahun. Seluruh Anggota Tim P PKK menjadi pengelola, aku sendiri menjadi Pimpinan Redaksi.

Diperkenalkan sebagai HUMAS baru, aku mengikuti dan mencatat serta memotret (mengambil gambar) kegiatan Bu Gub sebagai Ketua Tim Penggerak PKK. Dalam waktu senggang atau malam hari aku mulai menulis kegiatan itu menjadi berita. Setelah cukup jumlahnya, aku juga meminta tulisan artikel dari ibu-ibu yang lain. Paling banyak 3 artikel. Kemudian aku lay-out sambil memilih gambar-gambar yang cocok. Cover yang akan dipasangpun dikonsultasikan kepada wakil ketua. Tidak lupa naskahnya dikoreksi. Pas sudah jadi majalahnya, macam-macam kritikan datang menghampiri, apalagi kalau ada kesalahan. Hampir semua atau sejumlah ibu-ibu  berkata mengapa kesalahan ini terjadi. Dalam hati aku merasa senang, berarti penerbitan yang akan datang akan lebih baik. Aku senyum-senyum saja  sambil rada jengkel mendengar ocehan mereka. Dengan senyum itu ternyata ada yang tambah kesal. Nah, bagaimana aku harus menjelaskan mulai dari mengumpulkan berita sampai proses cetak produksi yang dikerjakan sendiri. Akh.. tidak mungkin mereka mamahami dan menerima, bisa-bisa aku dinilai sombong?.  Dalam hati bilang coba dia yang bikin berita. Yang membuat aku senang, diantara ibu-ibu itu ada juga yang memuji dan bilang gak apa-apa, lain kali hati-hati namanya juga barang cetakan yang berproses. Ih… senang sekali.

Sebenarnya setelah ikut dalam anggota PKK, ada kesenangan  dan kebanggaan tersendiri karena ternyata masuk kelompok kerja wanita nomor 1 di Sumsel. Oleh karena itu, tentu hasil kerja apapun harus mendekati nomor 1. Ini juga yang memotivasi aku  untuk bertanggungjawab atas tugas yang diberikan. Jadi Humas PKK aku tambah dikenal kelompok-kelompok tertentu. Tapi banyak juga yang tertawa dan mencibir, PKK? Perempuan Kurang Kerjaan, Pekak Kiri Kanan, Perempuan Kular Kilir ( senang jalan), dan nada sumbang lainnya.

Tadinya, aku berpandangan seperti cibiran di atas, tapi setelah aku mengenal PKK, akupun belum tentu bias seperti mereka. Berlatar belakang kondisi itu, tanpa sadar aku ikut mensosialisasikan apa itu PKK saat memberi kuliah, dan ceramah-ceramah diluar kerja PKK, bahkan saat ngobrol sama yang mencibir sekalipun. Aku pikir melaksanakan program PKK adalah sebuah pengabdian yang mulia dalam membangun bangsa dan Negara.  Aku kagum kepada seluruh Tim PKK Sumsel, dengan rela dan ikhlas serta senang melaksanakan tugas di PKK.

Tugasku bukan hanya seperti yang di atas, tapi juga bertanggungjawab atas uang transport wartawan. Besoknya bendahara tanya mana kwitansi tanda terima dari wartawan. Biasanya hubungan dengan wartawan tanpa tanda apa-apa. Selanjutnya aku pendekatan dulu sama wartawan agar mau tanda tangan. Hasilnya ada yang mau ada yang menolak, tergantung cara saja.

Ada tugas lain yaitu kadang-kadang menyiapkan pidato untuk ibu ketua dan siapapun yang ditunjuk mewakilinya. Senang juga kalau tulisan itu dipakai ibu. Tapi ada juga yang mengkritik hasilnya, tapi bukan bu Ketua. Akh.. aku sih mulai terbiasa dikritik, anggap saja ibu, kakak, atau bibi yang biasa protes. Jadi aku senang dan senyum saja. Coba deh dia yang buat. Walau terkadang bengkak juga hati ini. Disinilah aku membuang egoku dalam menerima kriktik dan belajar sabar. Kritik itu ada benarnya.

Tugas lainnya aku harus ikut mempersiapkan dialog interaktif ibu ketua untuk acara-acara tertentu. Mulai dari materi, datang ke studio, ikut memilih pewawancara, sedikit kasih arahan agar aman dan tayangannya oke. Untung rata-rata orang televisi kenal dan dekat karena rata-rata alumni tempat aku mengajar. Dan mereka senang kalau studionya dikunjungi ibu nomor satu, maka semuanya berjalan lancar.

Untuk dokumentasi, alhamdulillah semua ibu-ibu pandai memotret, soal hasilnya itu bisa diatur dan dipilih, yang penting dijepretkan. Saat itu masih menggunakan kamera manual dengan roll film. Kalau hasil cetaknya kurang bagus, biar tidak ribut suka aku sembunyikan dan bila perlu dibuang, agar tidak terjadi protes memprotes. Dengan demikian dunia menjadi aman.

Panjang cerita, aku baru dapat mengerjakan tugas Humasku sendiri, dan sekali-kali bertugas ikut kunjungan kerja ke daerah. Aku belum bisa memahami kerja-kerja lain dalam pokja I sampai IV. Kunker yang kurasakan disamping dapat melihat kondisi ibu-ibu PKK di kabupaten kota, juga kondisi ibu-ibu dan anak-anak dalam hal kesejahteraannya. Juga untuk penyegaran diri dari kesibukan kantor. Dari sini aku tahu bahwa kerja PKK itu untuk membangun dan memberdayakan masyarakat sampai ke desa-desa terpencil menuju kepada kesejahteraan lahir bathin.

Diujung tahun 2003 terjadi perubahan kondisi politik. DAMAS TERBIT dengan pendapat tentang kepemimpinan Bu Ketua. Wah.. dengan sabar aku wawancarai semua ibu-ibu Tim PKK, yang tidak ketemu pakai telpon atau sms. Kalau menunggu tulisan, entah kapan kumpulnya. Semua merasa kehilangan dan hasil wawancara menyimpulkan ketua PKK Sumsel  ternyata seorang pemimpin yang tegas, dan mengerti aspirasi anggotanya. Kamipun berpisah dengan Bu Ketua periode ini.

Pergantian Ketua

Saat pergantian, akupun ikut-ikutan mempersiapkan pelantikan dan penyambutan kedatangan ibu ketua yang baru. Wah … diam-diam aku mengkagumi bu gub yang baru ini. Kagumnya dia pernah memimpin PKK kabupaten dan sekarang provinsi. Hebat bisa memanaje ibu-ibu dengan berbagai sifat.   Dalam hati diam-diam akan meniru yang bagus-bagus dalam kepemimpinannya dan aku ingin ibu ketua ini sering tampil di media agar orang kagum dengan apa yang ia sudah lakukan dengan PKK disamping wajahnya yang manis simpatik dan menarik hati.

            Awal tahun 2004  aku selesai S3, ternyata aku mulai sibuk bermacam urusan dan terpilih menjadi Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sumsel. Aku harus membagun dan mengurusi lembaga baru yang belum dikenal orang banyak. Aku jarang datang, walau demikian DAMAS tetap aku terbitkan pada periodenya. Saat itu Bu Ketua sudah membelikan kamera digital. Semua orang dapat menggunakannya, jadi yang motret tidak harus aku. Aku mulai disindir-sindir yang intinya malas dan kurang bertanggungjawab. Aku hanya senyum-senyum saja dan selalu minta ijin untuk selalu berhalangan. Rasanya bersalah dan tidak enak juga. Aku pikir, PKK kan tim, maka bolehlah suatu saat ditolong oleh anggota yang lain. Yang penting tugasku yang berkaitan dengan media jalan dan ibu ketua tidak dan belum marah dan  mengganti dengan orang lain.

Setiap ada acara, aku selalu meminta ibu untuk diwawancarai agar sering tampil di media massa koran, radio dan televisi. Tapi sayang, awalnya ia belum berkenan banyak. Suatu saat wawancara di tv ditayangkan dan hasilnya bagus, akupun telpon ibu, tapi dengan merendah dia jawab mungkin karena bajunya yang bagus, tanpa sadar aku bilang mungkin juga ya bu. Padahal maksudku cara ibu ngomong itu yang oke.

Dalam kepemimpinan ketua yang baru, aku berpikir pasti semua anggota akan diganti, ternyata tidak demikian, hanya diganti beberapa orang yang pindah dan bahkan menambah satu orang sekretariat yang membantu urusan humas dan menulis pidato dan lain-lain. Senang rasanya. Bu ketua baru, tidak ada acara pecat memecat sesuai rezim bekuasa. Aku tambah termotivasi untuk selalu bertanggungjawab.

Dalam menjalankan program PKK, ternyata Bu ketua banyak sekali program terobosan yang tidak pernah aku bayangkan. Misalnya Program bantuan kesehatan Bumil (ibu hamil), TB Paru, Pembagian bunga hias gantung rumah pinggiran Sungai Musi dalam rangka mensukseskan Visit Musi 2008, perbaikan rumah dipinggiran sungai musi kerjasama dengan Dinas Pekerjaan Umum, Senam Sehat Sriwijya, lomba Rebana, Lomba Berzanji, TTS PKK untuk pelajar, TTS Lansia, dan sebagainya.

Biasanya setelah menjalankan banyak program bu Ketua selalu mengajak penyegaran misalnya jalan-jalan, makan-makan, foto-foto, dan menyediakan waktu untuk bincang-bincang. Dengan demikian keakraban mulai tumbuh dan terjalin. Walaupun aku sering disindir-sindir dan disalahkan karena kurang aktif oleh ibu-ibu yang cantik-cantik dan trampil itu. Anehnya aku kebal dan selalu rindu pada mereka. Kata Bu Ketua, untuk memahami PKK yang penting mau belajar.  Kalau rindu aku datang ke PKK, menanyakan tugas apa yang harus diselesaikan, sholat Dhuhur, kalau tidak ada kerja aku cerita sedikit lalu say goodbye,  aku balik kerja ke kantor. Tingkahku yang demikianpun menjadikan ledekan bagi mereka. Hitung-hitung lucu dan senang.

Pada tahun ke 3 kepemimpinannya, mungkin setelah terjadi acara sindir-menyindir?, ibu berbagi pengalaman dalam berorganisasi. Dulu waktu menjadi anggota Dharma Wanita ia sudah bekerja maksimal, tapi masih disalahkan, sempat nangis, tapi malah dimarah oleh suami (Pak Gub) bukan dibelai dan diusap air matanya dengan tisu. Airmata tidak menyelesaikan masalah. Tunjukkan yang lain agar orang tidak marah. Maknanya jangan hanya bisa marah dan menyalahkan tapi berusaha memberi penghargaan atas kerja orang dan beri jalan keluar untuk perbaikan. Pesan Bu Ketua,  Jangan mudah marah!.

PKK beda dengan organisasi lain, PKK adalah tim. Karenanya tidak dapat bekerja sendiri ada keterkaitan antara pokja dengan pokja dan sekretariat. Diibaratkan jika buntut dipukul kepala merasa sakit. Kalau tidak merasa sakit, maka organisasi itu sudah terputus atau terpecah. Oleh karena itu harus fokus jika diserahi tugas, hargai dan perduli dengan teman yang belum menyelesaikan tugasnya. Jangan lu lu gue-gue. Tidak merasa paling penting, kalau bukan saya, acara ini belum tentu sukses.  Mengenal teman dengan baik dalam organisasi. Jangan merepotkan teman. Yang mahir di seksi konsumsi, terus saja dimanfaatkan untuk dapat dan makan enak. Kesampingkan persoalan pribadi, dan netral. Kalau ada teman curhat jangan diceritakan lagi  kepada orang lain akibatnya pasti ribut. Jangan bawa kompor yang panas, atau selimut yang tidak perduli, tapi bawalah es agar suasana menjadi dingin.

Caranya,  kalau dalam kepanitiaan tidak harus menduduki jabatan yang sama, harus diganti-ganti, jadi merasakan semua urusan, kalau tidak tahu harus saling bantu.

Sejak itu aku bukan lagi menjabat sebagi Humas, akan tetapi wakil sekretaris. Dan dikepanitiaan aku mulai merasakan jadi ketua pelaksana, perlengkapan dan dekorasi, sampai pada seksi konsumsi. Di seksi ini aku sempat stress karena bingung. Untung selesai juga walau mendapat kritikan. Ternyata tinggal menerima kotak snack dan disuruh makan lebih enak daripada harus mempersiapkannya. Disinilah perlunya menghargai kerja orang lain.

Karena perpindahan tugas ini juga aku merasakan, bagaimana rasanya latihan rebana, latihan dan membaca doa didepan orang banyak, latihan dan ikut berzanji. Aku dapat bekerja dalam tim.

Sejak itu juga kalau ada yang meremehkan kerja PKK, aku bela-bela bahwa PKK itu tidak seperti yang orang sangkakan. Termasuk saat aku jadi moderator sebuah forum Universitas Negeri No 1 di Sumsel dan mempersilahkan Bu Ketua berbicara pertama sebagai nara sumber. Salah seorang professor menyalahkan saya mengapa dalam forum Ilmiah ketua Tim Penggerak PKK didahulukan. Aku jawab ini bukan forum ilmiah, karena pesertanya ibu-ibu dari berbagai organisasi dan kita wajib memberi penghargaan dan penghormatan kepada ibu ketua sebagai the first lady yang sudah menyempatkan diri hadir. Aku jelaskan bahwa tidak ada seorangpun yang berhak duduk di sebelah Gubernur dalam acara formal kecuali istrinya. Profesor sekalipun tidak diperkenankan duduk disebelah Pak Gubernur.

Aku punya program, bu Ketua bersama wakil dan anggota lainnya  harus tampil di 30 radio dan 3 televisi  yang ada di Sumatera Selatan. Aku ingin agar Bu Ketua lebih dekat ke masyarakat kota dan desa dengan cerita pengalamannya dan apa yang sudah ia lakukan untuk membangun ibu-ibu, anak-anak, dan lansia, melalui media massa.

Ternyata saat siaran , masyarakat antusias banyak yang bertanya, ingin tahu dan senang dapat berdialog dengan Bu Ketua. Banyak hal-hal yang dapat diambil dalam memimpin orgnisasi. Disamping ia berikan kepada kader PKK, juga ia berikan dalan siaran di televisi dan radio. Aku merasa bangga dan puas kalau melihat dan mendengar Bu Ketua siaran di radio dan televisi.

Disisi lain, dalam mengelola majalah PKK DAMAS, hingga saat ini sudah sampai pada edisi 10 ( sudah 5 tahun terbit). Pada edisi-edisi terdahulu, aku sering menawarkan iklan kepada instansi terkait untuk ucapan selamat. Oleh karena itu DAMAS disamping sebagai media komunikasi PKK, juga satu-satunya kegiatan yang menghasilkan dana sehingga miliki tabungan khusus dari iklan. Sayangnya iklan tidak terdapat dalam setiap penerbitan. Tabungan itu biasanya digunakan untuk keperluan organisasi atas ijin Pimpinan Umum dan berkonsultasi dengan Bu Ketua.

DAMAS terbit, hati bahagia. Tapi sedih waktu minta tulisan yang tak kunjung datang. Aku harus merayu dan memohon, baru ada tulisan. Tapi inilah tantangan yang harus kuhadapi sebagai pengelola apalagi sebagai pimpinan redaksi.

Hasil Belajar Di PKK

Lima tahun aku di PKK, aku belum apa-apa dibandingkan dengan ibu-ibu yang lain. Dalam pelaksanaannya ternyata aku banyak belajar dari PKK, yang tidak aku dapatkan dari  pendidikan formal tertinggi yang kumiliki. Dari PKK aku dapat sabar dan tersenyum kalau mendapat kritikan. Aku dapat bekerja dalam kelompok atau tim. Bertanggungjwab, tambah popular, banyak kawan, tambah pengetahuan baru tentang pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga, dan yang terpenting dari sinis dan tidak mengenal  menjadi bangga dengan PKK!!!.

BIO DATA

N a m a                        :  Hj. Isnawijayani

Kelahiran                     : Palembang, 27 Agustus 1962

Nama Suami                : H. Lexy Yoesman

Jumlah anak                : 2 (dua)

Alamat                                    : Jl. Megamendung 1124 Kel. Sentosa Plaju-Palembang 30265

                                                Tlp: 0711-7088766, 0811786297

                                     Email: isna_wi@yahoo.com

Pekerjaan                     : Kopertis Wilayah II Palembang Dosen PNS Dipekerjakan di

  Stisipol Candradimuka Palembang

Pendidikan                  :

  S1 FKIT Elektro IKIP Bandung tahun 1985

S1 Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad Bandung 1986

Asean Journalist Tokyo Jepang 1992

S2 Program Pasca Sarjana Unand Padang 1995

                                      S3 Kajian Media Universitas Malaya Malaysia

  Kuala Lumpur 2002

Pengalaman Organisasi :

              Humas   Tim Penggerak PKK  Provinsi  Sumsel  2002- sekarang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: