Tulisan isnawijayani

Beranda » ARTIKEL » PERLUNYA PEMBERITAAN KEPOLISIAN DI MEDIA MASSA UNTUK MEREBUT SIMPATI MASYARAKAT

PERLUNYA PEMBERITAAN KEPOLISIAN DI MEDIA MASSA UNTUK MEREBUT SIMPATI MASYARAKAT

PERLUNYA PEMBERITAAN KEPOLISIAN DI MEDIA MASSA UNTUK MEREBUT SIMPATI   MASYARAKAT

Dr.Hj.Isnawijayani, MSi

 

 

Pengalaman

            Mendengar kata Polisi  dulu dan sekarang secara pribadi ada perasaan yang kurang di hati entah itu apa tapi yang jelas tidak senang, takut, dan enggan. Dapat juga sesuatu yang menyulitkan dan berliku-liku. Penulis tidak akan berpanjang lebar mengapa demikian, yang jelas inilah yang terjadi dalam masyarakat. Inilah yang disebut stereotif yaitu suatu keyakinan yang terlalu digeneralisasikan mengenai suatu kategori atau kelompok. Keyakinan demikian biasanya relatif bersifat kaku dan diwarnai emosi.

Stereotif dan prasangka merupakan konsep yang saling terkait dan lazimnya terjadi bersama-sama. Prasangka menurut Samovar dan kawan-kawan (1981) adalah suatu sikap kaku kelompok orang berdasarkan keyakinan atau prakonsepsi yang salah. Hal ini sukar untuk diubah walaupun seseorang telah dihadapkan pada pengetahuan baru tentang hal yang dinilai.

Mengapa timbul stereotip dan prasangka? Menurut teori keduanya bukan sesuatu yang dibawa sejak lahir (factor bawaan), dan juga tidak muncul melalui naluri, hal ini muncul karena dipelajari. Mungkin hal ini terjadi setelah berinteraksi dengan satu atau dua orang kelompok polisi yang terkesan kurang memuaskan dan menyenangkan. Apapun urusannya. Akibatnya kemudian masyarakat yang telah berinteraksi ini melakukan generalisasi tentang sifat atau karakteristik yang dimiliki oleh polisi. Begitu kesan tentang polisi terbentuk, maka orang cenderung untuk selalu mencari sifat  atau karakteristik tersebut dalam setiap perjumpaan dengan polisi.

Suatu saat di tahun 2000 an ini, penulis pernah diundang untuk memberikan materi tentang teknik komunikasi termasuk di dalamnya bagaimana menggunakan media massa bagi sekelompok polisi yang menduduki jabatan sebagai kapolsek atau kapolress se-sumsel, yang jelas berpangkat tinggi. Wah… mula-mula kaku memang, tapi lama-lama proses belajar mengajar berjalan lancar. Saking banyaknya yang bertanya, tenggorokan rasanya kering, semua pak dan ibu polisi itu memiliki pertanyaan yang sangat kreatif. Setelah selesai sayapun pulang dan dikasih sebuah amplop lalu saya simpan dalam tas. Saya pikir pasti lumayan karena yang namanya polisi banyak terjadi transaksi peredaran amplop. Ternyata setelah dibuka tidaklah demikian. Untuk menyenangkan hati yah… hitung-hitung beramal untuk mereka. Di tengah perjalanan pulang saya disemprit polisi, ternyata saya salah masuk jalan, biasa ditanya ini dan itu. Saya minta maaf karena tidak tahu, dan saya bilang baru saja mengajar di Polda, jadi tolonglah saya jangan ditilang. Saya tunjukkan no hp pak Kadispen. Saya terbebas tidak ditilang. Begitulah pengalaman dengan polisi, kalau ada masalah, penulis selalu bilang adiknya atau apanya pak polisi yang berpangkat yang memang penulis kenal. Tanpa relasi seperti itu, jangan hrp mendapatkan pelayanan yang prima. Bayangkan karena terburu-buru harus mewisuda sejumlah sarjana, kena semprit lagi. Biasa, penulispun beralasan masih saudaranya polisi juga untuk tidak mau ditilang dan keluar uang. Ternyata kesetiakawanan polisi tinggi sekali, penulispun terbebas dari masalah itu. Hitung-hitung itulah honor bayangan         ( shadow price) yang penulis dapatkan.

Pengalaman lainnya ternyata bagus-bagus dan positif saat berbicara tentang penyiaran dengan kepala intelijen dan Kapolda. Keduanya menguasai betul teknologi tercanggih untuk menangkap informasi dan melakukan analisis. Dan siap membantu jika ada masalah penyiaran yang memerlukan lembaganya. Wah… Seandainya semua polisi seperti ini, tentu paradigma lama akan beralih menjadi yang baru. Polisi adalah teman dan sahabat bukan hanya tukang tembak.

Berdasarkan hal di atas memang masih tetap berlaku bahwa bagaimana seseorang berperilaku akan tergantung dari  frame of reference  dan  field of experience. Makin banyak pendidikan dan pengalaman yang diperoleh seseorang tentu akan berbeda dengan yang hanya memiliki pendidikan dasar dan minim pengalaman, apalagi ketika harus berhadapan dengan masyarakat luas.

 

Polisi dan Media Massa

Untuk merubah stereotip dan prasangka seseorang, dapat digunakan berbagai cara agar kemudian masyarakat bersimpati dengan kerja polisi. Misalnya memanfaatkan Media  massa yang terdiri dari Radio, Televisi, Film dan suratkabar  yang pada umumnya, mempunyai fungsi dalam masyarakat sebagai :*)

  1. Menyiarkan informasi ( to inform )
  2. Mendidik ( to educate )
  3. Menghibur ( to entertain )
  4. Promosi/Iklan ( to advertise)
  5. Kontrol sosial

Dari fungsi tersebut, yang mana yang akan diutamakan, sangatlah tergantung kepada jenis media massanya. Fungsi utama surat kabar, sebagai media massa adalah untuk menyiarkan informasi. Karena khalayak berlangganan atau membeli surat kabar karena mereka memerlukan informasi, memerlukan berita, mengenai berbagai peristiwa. Ingin mengetahui apakah yang sedang dikerjakan oleh orang lain, apakah yang sedang dipikirkan oleh orang lain dan ingin pula mengetahui apakah yang dikatakan orang, tentang suatu peristiwa.

Kalau ada isi lainnya selain berita, seperti artikel pendidikan, atau cerita bersambung, cerita bergambar yang mengandung hiburan, sebenarnya adalah fungsi pelengkap saja, atas fungsi utama, yakni menyiarkan berita atau menyiarkan informasi, ada sementara ahli yang menambahkan fungsi lain daripada surat kabar, misalnya surat kabar atau bahkan media massa pada umumnya mempunyai mempengaruhi ( to criticize ) dan lain sebagainya, namun kesemuanya itu adalah fungsi pelengkap terhadap tiga fungsi a,b,c. Yakni menyiarkan informasi, mendidik dan menghibur.

Siaran radio demikian pula program-program yang disiarkan pada umumnya bersifat hiburan, maka ada ketentuan dalam pengetahuan radio siaran, bahwa program-program yang mengandung pendidikan dan informasi haruslah diolah sedemikian rupa sehingga dapat lebih bersifat hiburan. Program radio yang bersifat informatif seperti warta berita, atau dengan   ramuan musik lengkap dengan sound effectnya.

Televisi siaran untuk umum menyiarkan programnya secara universal, namun fungsi utamanya tetap hiburan. Kalaupun ada program yang berisi informasi dan pendidikan hanya menjadi pelengkap saja dalam memenuhi kebutuhan alamiah manusia.

Walaupun demikian, pada akhirnya semua media massa dalam melakukan fungsinya akan saling mengisi dengan menyesuaikan pada fungsi utama masing-masing.

Dari fungsi komunikasi massa, penulis akan mengetengahkan ciri-ciri komunikasi massa.

Penyiaran informasi dalam bentuk berita dan penyiaran musik oleh radio dimulai hampir bersamaan. Radio siaran memegang peranan penting dalam penyebaran informasi, karena sifatnya yang mampu menerobos hambatan melampaui rintangan ruang dan waktu. Pesan-pesan dapat disampaikan ke seluruh pelosok mendaki gunung, menuruni lembah. Dibandingkan dengan surat kabar, radio jauh lebih luas dan lebih cepat dapat menjangkau masyarakat.

Cara polisi menagkap pembunuh yang disiarkan secara lisan dengan radio yang mngesankan dan informasi yang menggetarkan akan jauh lebih efektif dari pada kalau pesan itu disebarkan secara tertulis. Ditambah lagi dengan sifat medianya sendiri yang bisa mengarungi lembah, gunung dan lautan sampai ke rumah-rumah tanpa ada halangan, karena radio pernah mendapatkan julukan sebagai “penguasa kelima” atau “the fifth estate“ setelah pers yang lebih dulu mendapatkan julukan sebagai “the fourth estate”.

Teknologi muktahir telah membantu radio siaran dalam bidang hardware sehingga dengan sistem gelombang FM sebagai pengganti gelombang FM sebagai pengganti gelombang AM suara radio dapat mencapai sasaran lebih efektif, baik dengan daya pancar maupun penyempurnaan program siaran.

Dari radio kita berpindah bicara ke televisi. Televisi menyiarkan pesan berupa suara dan gambar. Audio visual, dapat didengar dan dilihat langsung oleh pemirsa. Pesan-pesan berupa suara dan gambar dapat memasuki rumah-rumah penerima pesan. Televisi pada tahap-tahap permulaan telah dianggap sebagai saingan berat dari bioskop, radio dan surat kabar. Dengan segala kemudahannya penduduk dengan tidak usah pergi dari rumah, dapat menikmati hiburan beraneka ragam. Informasi pun dapat disampaikan dengan seketika. Jangakauan pendidikan dapat jauh lebih luas dan lebih merata. Keberhasilan polisi dalam kerjanya serta tayangan pengalaman polisi akan mempengaruhi penilaian masyarakat terhadapnya.

Meskipun demikian, pada akhirnya keempat media massa itu harus saling mengisi, karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri.

Kelebihan utama bagi radio terhadap audience adalah bahwa penyampaian pesan dapat terus menerus tanpa henti, walaupun komunikan melakukan kegiatan lainnya, pendengar dapat mengikuti siaran radio sambil mengerjakan pekerjaan lainnya.

Televisi, mempunyai kemampuan menyajikan berbagai kebutuhan manusia, baik berupa hiburan, informasi, maupun pendidikan dengan lebih memuaskan, karena diperagakan dengan gambar yang nyata.

Kelebihan surat kabar, berita-berita atau informasi-informasi yang dikomunikasikan lewat surat kabar, dapat dibaca samapai kapan saja. Tidak terikat oleh ruang dan waktu. Pesan-pesan tertulis dapat dibaca berulang-ulang dan dapat pula dijadikan bahan bukti yang autentik. Ini jelas berbeda dengan radio dan televisi, yang semua pesan-pesannya hanya disampaikan secara sekilas. Khalayak harus benar-benar membuang waktunya, untuk satu ketika, bila memang ia memerlukan.Sebab apabila satu saja tertinggal akan habislah kesempatan untuk menerima informasi yang dikehendaki itu.

Surat kabar, sebagai media komunikasi massa mempunyai sasarannya, yaitu para pembaca. Kalau orang menulis buku, sasarannya adalah masyarakat tertentu. Tetapi surat kabar, sasarannya sangat heterogen, terdiri dari berbagai lapisan dan macam masyarakat. Surat kabar dijual secara bebas dan terbuka.

Siapa saja dapat bebas dan terbuka. Siapa saja dapat menyerap informasi yang dihidangkan oleh redaksi. Meskipun orang mencoba menerbitkan surat kabar khusus, tetapi pada akhirnya akan dibaca juga oleh orang yang diluar sasaran, karena surat kabar memang tidak terikat oelh ruang dan waktu.

Dengan makin pesatnya teknologi komunikasi, akan membawa pula perkembangan kehidupan manusia, termasuk perkembangan naluri ingin tahunya. Untuk memenuhi rasa ingin tahu keadaan lingkungannya, surat kabar merupakan salah satu media yang dijadikan salurannya.

Kembali ke soal penilaian polisi, media massa inilah yang banyak membantu melahirkan simpati masyarakat. Masyarakat dapat menghilangkan kesan yang telah terbentuk dari polisi dari penyajian pesan/informasi yang disampaikan. Dalam prakteknya kesan berubah  karena diasumsikan bahwa apa yang disampaikan melalui media massa bersifat factual dan lebih objektif. Tetap kalau salah menyajikan ( berita yang direkayasa/bohong) maka stereottip dan prasangka terhadap polisi akan semakin kuat.

Isi Pesan

            Apa yang harus disampaikan pada masyarakat melalui media massa agar timbul simpati? Kontak antara Polisi  dengan masyarakat yang kelihatannya kurang dihati  kadang-kadang dapat mengatasi permasalahan yang diprasangkakan. Tetapi tidak menjamin hal inipun dapat menghilangkan kesan yang telah dibentuk.

Kondisi-kondisi atau factor-faktor tersebut antara lain : Polisi terjun dalam kegiatan masyarakat dengan asumsi terjadi status sosial yang sama. Polisi mengadakan kontak pribadi yang lebih intim dan akrab dengan masyarakat, tunjukkan motivasi yang besar untuk membantu masyarakat, berpartisipasi bersama masyarakat  dalam kegiatan-kegiatan penting untuk tujuan bersama. Dengan demikian stereotip dan prasangka pada dasarnya dapat diubah atau dihilangkan apabila setiap individu polisi berupaya kearah tersebut dan disiarkan atau disebarkan melalui media massa.

Masyarakat juga perlu diberi pemahaman, bahwa polisi juga adalah manusia biasa dan menjadi anggota masyarakat, perlu istirahat, makan, memiliki emosi, dan bukan dapat bekerja seperti robot. Berapa sebetulnya jumlah polisi dibandingkan masyarakat luas. Apakah seimbang?

Bagaimana harus menjadi seorang polisi, hingga harus menjadi pejabat tinggi di kepolisian? Itupun perlu disampaikan

Makin banyak hal-hal seperti ini ditanyangkan, masyarakat akan lebih mengerti dan menjadikannya polisi seorang sahabat. Semudah itukah? Bertahap. Kalau sering ditayangkan tidak akan beda ketika penulis kepalanya gatal, maka buru-buru membeli shampoo yang ditayangkan televisi atau membeli produk sabun tertentu untuk mandi. Selama mandi penulis akan membayangkan seakan rambut seindah dan secantik artis yang bersampo dan bersabun mandi seperti di tv. Hal inipun dapat dilakukan oleh polisi. Yang jelas tunjukkan polisi bermanffat bagi kehidupan masyarakat melalui media massa.


*) Onong Uchyana Effendy, Dinamika Komunikasi, Remaja Karya CV, Bandung, 1986, halaman 82.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: