Tulisan isnawijayani

Beranda » ARTIKEL » PEREMPUAN DAN KEKERSAN DALAM PERS

PEREMPUAN DAN KEKERSAN DALAM PERS

PEREMPUAN DAN KEKERSAN DALAM PERS

OLEH ; PROF.H.ISNAWIJAYANI,M.SI

Disampaikan pada Forum Komuniksi Insan Media Massa

yang Peduli Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan dan Perlindungan Anak

di Palembang, 25 Mei 2005

 

 

A. Posisi Dan Peranan Pers

Pers atau media massa merupakan salah satu sumber informasi yang penggunaanya tergantung pada tujuan komunikasi. Hasil penelitian di negara-negara berkembang menunjukkan bahwa media massa berperan secara efektif dalam merubah pendapat dan menambah pengetahuan. Dengan  komunikasi interpersonal yamg umumnya lebih efektif dalam merubah sikap (Schramm dalam Depari, 1985)[1]. Kecuali jika pesan-pesan tersebut justru memperkuat nilai-nilai dan kepercayaan khalayak.

Pada kesempatan lain Rogers (dalam Hanafi, 1981), mengemukakan  bahwa saluran media massa memiliki ciri sangat efektif dalam menciptakan pengetahuan dan relatif dapat menjangkau sasaran yang luas dalam waktu singkat. Hal ini memungkinkan peranannya pada tahap inovasi kepada masyarakat.

Selanjutnya dengan berpegang pada teori Behaviorisme “Law of effect”’ Rakhmat (1986) menyatakan bahwa seseorang tidak akan menggunakan suatu media massa, jika media massa tersebut tidak memberikan kepuasan pada keperluannya. Dalam hal ini, media massa diharapkan dapat memenuhi keperluan pembaca akan fantasi dan informasi, hiburan, pengawasan lingkungan, hubungan sosial dan penularan budaya.

Lalu bagaimana karakteristik isi media massa dalam hal ini suratkabar yang dikehendaki pembaca?. Rachmadi (1990)[2], menyatakan bahwa ciri khas suratkabar terletak pada isinya yang memuat berita berita actual. Oleh karena itu apa yang menarik perhatian pembaca harus terdapat dalam sebuah berita. Seperti baru, jarak, penting, keluarbiasaan, akibat, ketegangan, pertentangan, seks, kemajuan-kemajuan, emosi, dan humor.[3] disamping ciri-ciri lain yaitu periodisitas, universalitas, objektifitas dan afinitas.[4]

Ciri-ciri suratkabar diatas, menunjukkan bahwa dalam rangka menjalankan perananya bahwa pers harus menyajikan berbagai Bagian masalah yang berguna bagi pembacanya, dikemukakan secara menarik, pada waktu yang tepat dan dapat dipercaya kebenarannya.

Bukan hanya Bagian masalah, foto berita pada halaman suratkabar juga mampu menarik perhatian, memikat, serta mendorong minat orang untuk membaca tulisan yang berkaitan dengan foto tersebut. Hasil penelitian Bronson (dalam Sanusi, 1989) menunjukkan bahwa pembaca akan melihat foto terlebih dahulu sebelum mulai membaca.

Dahulu sebelum reformasi peranan media massa masih dititik beratkan kepada pemberitaan yang diarahkan kepada pembangunan serta pemenuhan fungsinya dalam masyarakat. Dimana Pers dalam kehidupannya mempunyai empat fungsi menurut Fraser F Bond dalam Exploring Journalism (1951), yaitu :

1. to inform (memberikan informasi)

2. to interpretate (memberikan interprestasi)

3. to guide (memberikan bimbingan, jalan keluar)

4. to entertaint (memberikan hiburan)[5]

Menurut Rachmadi (1990), fungsi suratkabar dilihat dari nilai pesan atau informasi yang dibawanya. dengan melihat, fungsi suratkabar adalah memberi penerangan, pendidikan, ulasan, hiburan, dan kontrol sosial. Dimana pelaksanaan kontrol sosial yang bebas bertanggungjawab agar tidak menimbulkan ketegangan dalam masyarakat harus dilandasi oleh sikap yang tetap lugas, tidak mengarah pada pencemaran pribadi, dan harus  dapat menunjukkan jalan keluar dari masalah  yang diangkat. Dengan demikian isi suratkabar harus banyak berpikir positif, dengan penulisan berita mendalam yang dipandang dari berbagai aspek. Dalam menulis investigative diperlukan wartawan yang profesional. Maka suratkabar dapat dipandang sebagai lembaga sosial, yang dapat memberi kesempatan berkembangnya dinamika masyarakat.

Tetapi setelah reformasi ternyata pemberitaan menjadi lebih bebas, dan lebih mengutamakan keuntungan dan komersil. Dan yang lebi bebas lagi, Pers menganggap bahwa unsure berita yang paling menarik adalah tentang seks. Dan memang seks selalu menjadi bahan perbincangan yang menarik bagi pembaca. Seks tidak terlepas dari kehidupan manusia, dan imajinasi yang berhubungan juga dengan kriminal.

B. Kebebasan Dalam Pemberitaan Penonjolan Seks, Wanita, & Kriminal

Kini pers atau suratkabar lebih bersifat komersil, sebagai contoh sajian foto wanita cantik dan seksi secara langsung maupun tidak langsung untuk merangsang (nafsu birahi) publik. Pers berkeyakinan pada saat itu akan timbul ilusi, imajinasi atau halusinasi publik, yang tentu saja dapat membahagiakan sebagian keinginannya. Cara ini merupakan salah satu kiat dalam menjual pers atau suratkabar, yang terbukti efektif. Atau kalau tidak dengan gambar wanita cantik, dipergunakan kata-kata yang merangsang, sehingga hasilnya sama dengan contoh gambar tersebut.

Karena pers atau suratkabar sering menyajikan hal-hal seperti diatas, lama kelamaan, publik merasa senang, dan menjadi keinginan untuk selalu membeli dan membaca pers atau suratkabar tersebut. Sayangnya kesenangan itu berhubungan dengan pemenuhan selera rendah (low taste) pelayanan kepada publik. Sehingga mengesankan pers atau suratkabar menjadi salah satu alat pemenuhan selera primitif manusia.

Reformasi kebebasan yang telah dibuka seluas-luasnya oleh pemerintah Indonesia telah membuat orang berlomba-lomba mengaktualitaskan dirinya lewat media pers atau suratkabar. Seperti telah diuraikan diatas, bahwa kebebasan tidak saja berakibat positif, tetapi juga berakibat negatif.  Pers atau suratkabar menjadi teramat bebas menerbitkan dan mempublikasikan apa yang diinginkan dan disukai. Pers atau suratkabar berlomba-lomba tampil menarik dengan foto/gambar/dan tulisan yang cenderung bombastis dan merangsang. Contohnya berita-berita politik yang memanaskan hati pembaca, berita-berita yang menampilkan pornografi (asusila)yang dipandang sebagai suatu seni, bahkan berita-berita yang berbau klenik[6]. Bahkan dapat dikatakan pada bagian-bagian tertentu pemberitaan pers atau suratkabar, kini norma yang dianut menjadi bebas nilai.

Yang menghawatirkan pers atau suratkabar kini semakin berani, free market of ideas itu muncul dalam bentuk pornografi, seks, dan kekerasan yang bebas disajikan dan tentu saja masyarakat sebagian besar akan senang. Masyarakat hanya menerima sajian apa adanya dan tidak mampu untuk mengontrol pemberitaan tersebut. Begitu juga dengan pemerintah yang telah memberikan kebebasan itu, tetapi disalahartikan oleh pers atau suratkabar. Disini terlihat bahawa opini publik telah diarahkan sedemikian rupa oleh pers atau suratkabar, terutama dalam pemberitaan yang kurang layak dan ketimpangan informasi yang tidak balance.

Salah satu pemenuhan kebutuhan masyarakat media (cetak dan elektronik) menggunakan wanita dengan segala kelemahan dan daya tariknya. Dengan alasan : Wanita selalu dihubungkan dengan soal berbusana, makanan kegemaran. Jarang mengungkapkan kehebatan profesi atau bidang keakhliannya. Wanita yang bernilai adalah yang dapat mengurus rumahtangga. Kesan yang diberikan, urusan rumahtangga adalah tanggungjawab sepenuhnya wanita. Kalau tidak, ia dikatakan wanita yang gagal.

Media sering menggambarkan wanita adalah orang yang menyenangkan pria, baik dari cara berprilaku atau berpakaian. Jika terjadi perkosaan atau kejahatan seksual, wanitalah yang disalahkan. Dunia akan aman kalau wanita berdiam dirumah. Padahal kejahatan seksual dapat terjadi dimana saja.

Iklan di media sering menampilkan tubuh wanita dari jari, kaki tangan dan tubuh yang melambangkan pengabdian dan seks. Wanita dipajang lebih rendah dari pria. Pria tampak berwibawa dan perkasa jika didampingi sekretaris cantik yang selalu siap sedia.

Wanita digambarkan sebagai pemikat pria. Wanita lebih menarik dari pria, sehingga iklan mobil selalu menggunakan wanita.

Dalam kehidupan iklan media, wanita diletakkan sebagai bawahan pria. Iklan telah meletakkan wanita masuk kelas sosial mana, dengan pemilikan mobil, tv, oven, dan busana merk tertentu. Naik turun kelasnya wanita tergantung dari barang yang melekat ditubuhnya. Inilah yang menjadi kekuatan media terutama iklan dalam menciptakan konsumerisme.

Kenyataan bahwa dalam media massa cenderung memperlihatkan gambaran stereotyping  kaum wanita yang merugikan dirinya. Perempuan itu pasif, didominasi, tidak dapat mengambil keputusan dan hanya menerima keputusan lelaki  sebagai simbol sex entah sadar atau tidak menjadikan warga kelas dua. Dalam buku Apa dan Siapa Orang Indonesia  yang diterbitkan Tempo,  dari 850 tokoh hanya 97 (10%) orang perempuan, itupun kebanyaan artis. Suratkabar Suara Pembaruan  menunjukkan  fakta lain dalam bukti  Rekaman dan Peristiwa yang diterbitkan tahun 1991, dari sekian banyak tokoh berita, hanya ada 3 perempuan. Sedangkan untuk terbitan tahun 1992, hanya ada tokoh kurang dari lima wanita.

Disisi lain kekerasan termasuk pemerkosaan terhadap perempuan sepertinya telah menjadi berita sepanjang sejarah. Sehingga hal ini menjadi daya tarik tersendiri dan dimanfaatkan media massa dalam pemberitaannya. Di Indonesia, jumlah korban perkosaan yang biasanya wanita satu setiap lima jam, bila yang mau melaporkan hanya 10% (karena malu) berarti setiap setengah jam ada korban. Lalu mengapa wanita rentan terhadap tindak kekerasan? Coomaraswany dalam buku  Freedom from Violence (1992) , mengatakan penyebabnya: karena kedudukan sosialnya dianggap rendah, maka perempuan menjadi sasaran pemerkosaan. Karena berhubungan dengan laki-laki, maka perempuan rentan terhadap penganiayaan dan perlakuan sewenang-wenang. Karena posisi yang rendah dalam masyarakat, ia gampang menjadi sasaran kemarahan. Penyebab inipun dijadikan pers sebagai bahan empuk dalam pemberitaan.

Ironisnya ada media yang khusus ditujukan untuk wanita dan dikelola oleh wanita kebanyakan menceriterakan tentang derita perempuan yang dianiaya, dirayu, diperkosa dan sebagainya, yang bertujuan menguras airmata dan emosi. Nampaknya wanitapun senang akan hal-hal demikian, sehingga media itu laris. Akhirnya hanya mengejar target oplag. Gambaran yang dicerminkan dalam media tentang perempuan juga pandangan lelaki tentang perempuan. Sebab pimpinan, reporter, editor maupun pemilik media didominasi oleh lelaki. Jadi tidak perlu heran jika yang disajikan adalah pemberitaan menurut sudut pandang kaum lelaki. Dan biasanya yang disorot adalah kalangan artis.

C. Mengantisipasi Dan Melindungi Wanita

Kenyataan membuktikan, ternyata pers atau suratkabar yang mampu tetap eksis ditengah persaingan antar media adalah pers atau suratkabar yang mampu mensiasati dirinya sebagai agen atau duta kapitalisme. Apalagi pemberitaan yang berbau seks, wanita, dan kriminal. Padahal Pers atau suratkhabar dengan pemberitaanya merupakan suatu rangsangan (stimuli) yang diberikan kepada pembaca. Perspektif individual memandang bahwa sikap dan organisasi personal psikologis individu akan menentukan bagaimana individu memilih stimuli dari lingkungan dan bagaimana ia amemberi makna pada stimuli tersebut. Setiap orang mempunyai  potensi biologis, pengalaman belajar dan lingkungan yang berbeda.

Efek afektif atau perubahan sikap terjadi jika suatu berita dapat mempengaruhi sikap pembaca, apabila berita itu dapat dimengerti. Mar”at (1981), mengatakan teori stimulus respon menitikberatkan penyebab sikap yang dapat mengubahnya dan tergantung pada kualitas rangsang yang berkomunikasi dengan organisme. Karakteristik dari Komunikator (sumber) menentukan keberhasilan tentang perubahan sikap seperti kredibilitas, kepemimpinan, dan gaya berkomunikasinya[7].

Teori ini disebut teori S-O-R, dimana S adalah stimulus atau rangsang yang diberikan, O adalah organisme atau individu, dan R adalah respon atau tanggapan setelah diberi rangsang tersebut. Teori ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Stimulus——————> Organisme

–  Perhatian

– Pengertian

– Penerimaan ————-> Reaksi

Perubahan Sikap

Artinya stimulus atau berita/tulisan dalam suratkabar yang disampaikan kepada pembaca (organisme) akan dijawab dengan adanya perhatian terhadap berita tersebut. Latar belakang pendidikan, umur, kehidupan, dan pengetahuan pembaca yang membuat proses mengerti atas terpaan suatu berita. Apabila pembaca tidak dapat dimengerti makna, maka isi berita/tulisan tidak dapat dimengerti. pada tahap ini telah ada penerimaan berita sebagai suatu konsep.

Setelah terjadi keyakinan terhadap penerimaan berita/tulisan, selanjutnya akan terjadi reaksi dalam bentuk perubahan sikap, maka berita/tulisan telah diterima melalui proses perhatian dan pengertian melalui komponen pengetahuan.

Jadi dapat disederhanakan bahwa perubahan sikap timbul pada apa yang dirasakan, disenagi, atau dibenci pembaca setelah diterpa berita.

Untuk lebih jelas, setelah diterpa berita tentang kemajuan seorang petani menanam cabe dengan cara baru, petani pembaca mengikuti cara baru tersebut atau juga dengan mengajak orang lain berlaku seperti dirinya. akibatnya dapat mendorong pembangunan dengan memperlihatkan produksi yang meningkat dan diiringi dengan pengetahuan di semua Bagian meningkat.

Selanjutnya dikatakan, bahwa kemampuan adopsi berhubungan dengan tingkat pendidikan dan umur seseorang. Disamping itu masih tergantung pada tingkat inovasinya (Anonymous), 1977). Sifat-sifat inovasi yang di tuliskan oleh Slamet (1978) adalah keuntungan relatif, kompatabilitas, kompleksitas, triabilitas, dan observabilitas dari inovasi tersebut. Oleh karena itu suratkabar yang menyajikan informasi pengetahuan baru akan dipelajari pembacanya dan kemudian diusahakan untuk menyerap isi kemudian menyebarkannya. Cepat dan lambatnya penyebaran isi pesan tergantung juga pada sifat inovasinya (Mosher, 1978). Penyebaran ini dilakukan oleh pembaca-pembaca yang telah mengadobsi dengan memberikan pekanan kepada orang-orang yang belum mengadobsi pengetahuan itu, agar memikirkan untuk mengadopsinya.

Berdasarkan teori dan kondisi yang telah diuraikan di atas, sebetulnya media massa dapat juga menampilkan kesejajaran wanita dan pria. Isu gender perlu diberikan dalam media dan juga komunikasi tatap muka, terutama bagi kaum lelaki. Porsi pemberitaan dapat lebih diseimbangkan. Misalnya dengan mengenalkan siapakah sebetulnya wanita itu, keberhasilannya. Artinya media harus mendorong dan memungkinkan perempuan untuk mengungkapkan dan mengembangkan kemampuan wanita. Hal ini penting bukan hanya untuk memperkuat wanita saja, akan tetapi memperkaya nilai kemanusiaan. Karena hanya dengan memberikan tempat bagi perspektif dan pendapat yang memberikan pilihan pada kehidupan, maka martabat dan harkat wanita manusia dapat ditegakkan.

Berkaitan dengan hal ini media massa cetak dan elektronik dapat lebih seimbang menampilkan wanita dalam acara dan pemberitaan terutama diharapkan kepada media yang dikelola wanita. Sayangnya majalah Eksekutif yang dikelaola Tuti Adhitama, mengemukakan success story para tokoh secara memikat, namun tokohnya kebanyakan lelaki. Begitupun talk show di RRI, TVRI, TPI, RCTI, seperti dialog Ekonomi atau focus, tokoh yang ditampilkan adalah kebanyakan  lelaki. Jadi inilah masalah yang dihadapi oleh media massa dalam pemberitaan.  Walaupun dalam tahun 2000 ini, pemilik dan pengelola, penyiar, reporter, dan wartawan sudah banyak kaum wanita, tetapi tetap saja berita-berita tentang wanita masih yang miring. Satu-satunya jalan untuk mengangkat derajat wanita dan melindunginya dengan memberikan inovasi baru tentang wanita kepada masyarakat dengan keseimbangan porsi pemberitaan lelaki dalam seluruh bentuk pemberitaan di media massa. Dengan demikian lambat laun semua orang lelaki dan perempuan akan mengerti siapakah perempuan, dan tentu siapakah dirinya sendiri, sebagai perempuan. Media massa sudah harus tidak memandang rendah wanita. Wanita adalah mitra pria, bukan bawahan dan orang kedua.

D. Daftar Rujukan

Dja’far H. Assegaff, 1983, Jurnalistik Masa Kini,  Ghalia Indonesia, Jakarta

Edward depari, 1985, Peranan dan Bantuan Masyarakat Dalam Pembangunan Nasional Pembangunan Nasional, Gajah Mada University Press, Yogyakarta

Rachmadi.F., 1990, Perbandingan Sistem Pers, PT. Gramedia, Jakarta

Mar’at, 1981, Sikap Manusia Perubahan serta Pengukurannya, Ghalia Indonesia

Wolseley and Campbell, 1951, Exploring Journalism,  Prentice Hll Inc.New York


[1] Edward depari, 1985, Peranan dan Bantuan Masyarakat Dalam Pembangunan Nasional Pembangunan Nasional, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, hal 96

[2] Rachmadi.F., 1990, Perbandingan Sistem Pers, PT. Gramedia, Jakarta, hal. 89

[3] Dja’far H. Assegaff, 1983, Jurnalistik Masa Kini,  Ghalia Indonesia, Jakarta, hal.26

[4] Aktualitas, berarti baru saja terjadi. Selain itu aktual juga mengandung arti bahwa berita itu menarik perhatian pembaca. Periodisitas, berati suratkabar itu harus diselenggarakan secara teratur. Itu sebabnya dikenal suratkabar harian dan mingguan.Universalitas, artinya suratkabar itu memuat tentang segala aspek kehidupan. Politik, ekonomi, perdagangan, sosial, budaya, olahraga, dan lain-lain. Selain itu universalitas juga mengandung arti suratkabar mengemban kepentingan umum dan ditujukan kepada masyarakat umum. Objektivitas, artinya suratkabar menyampaikan hal-hal yang faktual apa adanya, sehingga kebenaran isi berita yang dimuat tidak menjadi tanda tanya. Ciri ini menjadi nilai etika dan moral yang harus dipertanggungjawabkan oleh sebuah suratkabar. Afinitas, adalah unsur ketergantungan yang merupakan salah satu cara atau usaha untuk menjalin hubungan antara pihak penyelenggara suratkabar dengan pembacanya. Para pembaca mengharapkan berita-berita tertentu dari pengelola suratkabar.

[5] Wolseey and Campbell, 1951, Exploring Journalism,  Prentice Hll Inc.NJ., hal. 51.

[6] Klenik adalah kegiatan perdukunan, paranormal atau mistik

[7] Mar’at, 1981, Sikap Manusia Perubahan serta Pengukurannya, Ghalia Indonesia, hal.26


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: