Tulisan isnawijayani

Beranda » ARTIKEL » PERANAN YANG DAPAT DILAKUKAN KIM (KELOMPOK INFORMASI MASYARAKAT) PADA PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH DAN ERA INFORMASI

PERANAN YANG DAPAT DILAKUKAN KIM (KELOMPOK INFORMASI MASYARAKAT) PADA PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH DAN ERA INFORMASI

PERANAN YANG DAPAT DILAKUKAN KIM (KELOMPOK INFORMASI MASYARAKAT)PADA PELAKSANAAN  OTONOMI DAERAH DAN ERA INFORMASI

 

Prof. Dr. Hj. Isnawijayani, M.Si

Guru Besar Ilmu Komunikasi FISIP UNBARA

Ketua Paguyuban KIM Sumsel

  1. A.   Pendahuluan

Sistem Otonomi daerah adalah suatu system yang memiliki hak, wewenang, dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Oleh karenaitu bila sifat-sifat suatu bagian dalam system berubah, maka semua bagian dan system secara keseluruhanpun akan berubah atau berpengaruh. Dengan demikian pembangunan daerah sebagai bagian integral dari pembangunan nasional tidak dapat dilepaskan dari prinsip otonomi daerah. Sebagai daerah otonom, daerah memiliki kewenangan dan tanggungjawab menyelenggarakan kepentingan masyarakat, dan pertanggungjawaban kepada masyarakat.  Oleh sebab itu pemerintah kemudian mengeluarkan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, UU Nomor 25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, serta Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Berdasarkan ketiga undang-undang di atas, maka sebetulnya asas penyelenggaraan pemerintahan di daerah mengandung Desentralisasi  yaitu asas penyerahan sebagian urusan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus rumahtangganya sendiri. Yang kedua mengandung asas Dekonsentrasi yaitu asas pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Ketiga adalah Tugas Pembantuan yaitu asas untuk turut sertanya pemerintah daerah oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah tingkat atasnya dengan kewajiban mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya.

Sisitem informasi dan komunikasi  dalam otonomi daerah mengalami perubahan. Jika dulu masyarakat banyak terbentur dalam system birokrasi yang sangat panjang. Pada era Otonomi ini sangatlah jauh berbeda . dalam upaya mencapai Visi dan Misi yang jelas pada era Reformasi seperti sekarang ini, ditambah dengan teknologi digital system serta terbukanya kebebasan berpendapat dan menulis, banyak memberikan inspirasi bagi masyarakat. Sehingga komunikasi dan informasi dapat bebas tapi bertanggung jawab, sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku dalam masyarakat. Baik itu berupa peraturan, perundang-undangan, dan lain sebagainya. Semua ini bertujuan agar pada masa yang akan datang    dapat ditemukan suatu cara yang dapat memecahkan suatu persolan secara cepat dan bertanggung jawab.

Untuk melihat pentingnya komunikasi maka Chester Barnard (1938:82) menulis “fungsi eksekutif pertama adalah mengembangkan dan memelihara system komunikasi.” Pernyataan Barnard ini terbukti. Beberapa tahun yang lalu, dalam survei atas para pimpinan dari seratus perusahaan terbesar di Amerika, 96% percaya bahwa ada “ hubungan yang pasti” antara komunikasi dan produktivitas pekerja  (Lull et al,1995).

Pada teori kewenangan komunikasi, Barnard menganggap bahwa antara kewenangan dan komunikasi dapat dipadukan melalui teknik-teknik komunikasi baik secara tertulis maupun lisan. Hal ini penting untuk mencapai tujuan organisasi, di lain pihak, teknik-teknik komunikasi tersebut dapat dianggap sebagai sumber masalah organisasi. Menurut Barnard “Teknik-teknik Komunikasi menentukan bentuk internal organisasi. Ketiadaan teknik yang sesuai akan menghilangkan kemungkinan menerima tujuan sebagai suatu dasar organisasi” ( Pace and Faules, 1993 : 59 ). Dari pernyataan ini, maka, Barnard telah menjadikan komunikasi sebagai suatu bagian penting dari teori organisasi dan manajemen, bahkan ia sepenuhnya yakin bahwa komunikasi merupakan kekuatan organisasi. Ini merupakan faktor yang sangat penting untuk dapat mengintegrasikan kelompok dalam suatu sistem tertentu.

Informasi menjadi bagian yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat informasi di  Indonesia mengacu pada pembangunan bidang komunikasi, informasi, dan media massa seperti yang tercantum pada Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1999-2004, antara lain disebutkan:

  1. Meningkatkan pemanfaatan peran komunikasi melalui media massa modern dan media massa tradisional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, memperkokoh persatuan dan kesatuan nasional; membentuk kepribadian bangsa serta mengupayakan keamanan hak pengguna sarana dan prasarana informasi.
  2. Membangun jaringan informasi dan komunikasi antara pusat dan daerah secara timbal balik dalam rangka mendukung pembangunan nasional serta memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

Di sini terlihat bahwa secara langsung maupun tidak langsung pemerintah masih harus bertanggungjawab terhadap akses dan pemerataan informasi.

Permasalahan yang terjadi era informasi baru dirasakan pada masyarakat di tengah perkotaan, ataupun ditengah-tengah kabupaten. Sementara yang dipinggiran kota tidak dapat merasakan, apalagi yang jauh diperdesaan. Karena era informasi memerlukan infrastruktur, pendapatan, dan tingkat pendidikan yang saling mendukung. Sehingga komunikasi dan informasi bermedia belum merata hingga keperdesaan. Padahal masyarakat Indonesia sebagian besar hidup di sana.

Melihat permasalahan di atas, menyatakan bahwa komunikasi tatap  muka masih tetap diperlukan. Dalam perkembangan selanjutnya lahirlah KIM (Kelompok Informasi Masyarakat) yang terdiri dari berbagai komunitas yang bergerak di bidang pemanfaatan, pengolahan, dan penerapan informasi melalui media massa cetak dan elektronik, serta media lainnya. Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) adalah Lembaga Layanan Publik yang dibentuk dan dikelola dari, oleh dan untuk masyarakat yang berorientasi pada layanan informasi dan pemberdayaan masyarakat sesuai dengan UU Nomor. 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik dan Peraturan Menteri Komunikasi Dan Informatika Nomor.08/Per/M.KOMINFO/06/2010 Tentang Pedoman Pengembangan Dan Pemberdayan Lembaga Komunikasi Sosial. KIM ini bertujuan untuk kesejahteraan anggota dan masyarakat lingkungannya.  Lalu peranan apa yang dapat dilakukan KIM pada pelaksanaan otonomi daerah dan era informasi.

  1. B.   Inovasi Komunikasi

 

Masyarakat yang hidup di era otonomi daerah dan berhadapan dengan globalisasi tentu saja berkepentingan dengan inovasi. Inovasi atau penemuan-penemuan baru, baik itu berupa gagasan, tindakan, benda-benda baru, ataupun sesuatu yang baru kalau disebarkan dan diberitahukan kepada masyarakat, maka akan merupakan penyebab terjadinya perubahan sosial.  Bagaimana inovasi itu menyebar dan bagaimana sistem sosial itu berubah. Mula-mula harus diketahui bahwa faktor penting yang mempengaruhi kecepatan penerimaan suatu inovasi oleh masyarakat adalah berkaitannya inovasi itu dengan kepercayaan yang membudaya dalam masyarakat.

Kalau masyarakat petani di desa diperkenalkan cara menanam padi yang dapat dipanen misalnya 3 kali dalam setahun, atau bagaimana mengolah nenas menjadi jenis makanan yang lain, ataupun bagaimana mengemas lempok Palembang, agar memiliki daya tarik bagi wisatawan, maka akan terlihat perubahan-perubahan. Ini kalau inovasi itu diterima dan dilaksanakan oleh masyarakat. Begitupun kita dapat melihat kilas balik bagaimana ide Keluarga Berencana dulu masuk dalam masyarakat. Bagi yang menerima KB barangkali akan sejahtera kehidupan keluarganya. Disisi lain  yang menolak ide KB, akan mengalami hambatan dan kerepotan dalam membina keluargannya.

Cara menanam padi, jenis makanan lain dari nenas, kemasan lempok, dan KB itu adalah contoh inovasi. Inovasi-inovasi itu kemudian dimuat dalam media massa cetak dan penyiaran, dibaca oleh KIM, didiskusikan, lalu diaplikasikan atau digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan bukan hanya contoh di atas saja yang dapat diinovasikan, melainkan semua bidang kehidupan yang pada akhirnya untuk mensejahterakan masyarakat. Begitu juga peraturan, kebijaksanaan, aturan-aturan bagi keperluan hidup sebagai warga negara.

Media massa sangat diperlukan, tetapi komunikasi tatap muka tetap mendampingi. Sesuatu yang baru perlu penjelasan. Menyebarkan inovasi itu penting tetapi tak semudah dan selancar penciptaannya. Suatu hasil penelitian yang menyatakan ada berbagai tindakan yang harus dilakukan, mungkin dari 100 tindakan, hanya 5 atau 10 saja yang dapat diterima dalam masyarakat. Salah-salah untuk orang Indonesia dapat direaksi dengan protes dan demontrasi, suatu tindakan yang jamak dilakukan di era otonomi ini. Sebuah kasus di kota Palembang. Dulu orang-orang di Palembang protes kepada pemerintah, mengapa Palembang tidak mampu memikirkan terminal, sehingga belum pernah memiliki terminal bus antar kota. Bahkan Palembang dijuluki memiliki terminal terpanjang di dunia, karena hampir sepanjang jalan Sudirman dan Kolonel Atmo dijadikan terminal. Setelah pemerintah mengadakan kajian dimana layaknya harus dibangun terminal itu yang nantinya sesuai dengan perkembangan kota, maka dibangunlah terminal itu di daerah Kramasan Kertapati. Setelah diresmikan, otomatis semua kendaraan bermangkal di situ. Tapi apa yang terjadi kebanyakan pengguna tidak setuju, dan protes untuk kembali seperti keadaan semula, bahkan ada beberapa kendaraan yang sempat mogok. Akhirnya dengan sanksi, baru mereka mengikuti. Itupun dengan berat hati. Keadaan yang seperti ini juga menghambat pembangunan kota di era otonomi.

Hal di atas secara sederhana menunjukkan bahwa mengkomunikasikan ide-ide baru agar diterima dan dipergunakan oleh orang lain secara memuaskan ternyata bukan suatu hal yang mudah dan sederhana melainkan hal yang rumit. Bahkan dapat juga terjadi inovasi itu tidak berhasil disebarkan, ditolak ataupun diterima, tetapi salah penggunaannya. Alat kontrasepsi bukan digunakan untuk merencanakan keluarga sejahtera, melainkan untuk mengejar kesenangan, sehingga banyak korban yang berjatuhan. Perubahan sosial memang terjadi tetapi perubahan yang menuju kehancuran.

Proses perubahan sosial dapat dilihat dari perubahan individual, dimana individu yang menerima atau menolak inovasi. Dengan bermacam-macam nama seperti difusi, adopsi, modernisasi, akulturisasi, belajar atau sosialisasi. Dan perubahan sistem sosial, dimana pada level ini disebut pembangunan, spesialisasi, integrasi dan adaptasi. Sistem otonomi daerah juga merupakan sebuah inovasi yang harus disebarluaskan, dipahami dan dipergunakan. Nah… inipun mendapat reaksi yang keras terutama dari pemerintah sendiri. Kemungkinan semua analisa perubahan sosial harus memusatkan perhatian terutama pada proses komunikasi. Walaupun komunikasi itu tidak sama dengan perubahan sosial, tetapi komunikasi merupakan unsur yang penting dalam proses perubahan sosial. Salah satu tipe khusus komunikasi adalah difusi yaitu proses dimana inovasi tersebar kepada anggota suatu sistem sosial. Pengkajian difusi adalah telaah tentang pesan-pesan yang berupa gagasan baru, sedangkan pengkajian komunikasi meliputi telaah terhadap semua bentuk pesan.

Dalam sistem sosial sebagai suatu kumpulan unit yang berbeda secara fungsional dan terikat dalam kerjasama untuk memecahkan masalah untuk mencapai tujuan bersama, biasanya ada pemuka pendapat dan agen pembaru. Pemuka pendapat adalah seseorang yang relatif yang sering dapat mempengaruhi sikap dan tingkah laku orang lain untuk bertindak dengan cara tertentu, secara informal. Mereka sering diminta pendapatnya mengenai suatu perkara oleh anggota sistem lainnya. Para pemuka pendapat ini memiliki pengaruh terhadap proses penyebaran inovasi oleh anggota masyarakat  tetapi dapat juga para pemuka pendapat ini menghambat tersebarnya inovasi ke dalam sistem. Pemuka pendapat sering menjadi pembantu yang berjasa bagi agen pembaharu, tetapi bukti penelitian menunjukkan bahwa para pemuka pendapat ini biasanya ditinggalkan setelah usaha berhasil.

Penerimaan atau penolakan suatu inovasi adalah keputusan yang dibuat seseorang. Ketika seorang mengetahui adanya inovasi dan mendapat pengetahuan bagaimana inovasi itu berfungsi, maka ia akan berpikir untuk menggunakannya. Misalkan asas-asas reproduksi manusia yang mendasari semua inovasi keluarga berencana atau asas inovasi reproduksi pertumbuhan yang menjadi dasar inovasi fertilasi (pemupukan tanaman). Dan umumnya seseorang cenderung membuka diri terhadap ide-ide yang sesuai dengan minat, kebutuhan dan sikap yang ada padanya. Seringkali orang yang telah mencoba inovasi berelanjut dengan keputusan untuk mengadopsi, jika inovasi itu paling tidak memiliki keuntungan relatif tertentu. Pada sisi yang lain umumnya orang yang cepat berhenti dari penggunaan inovasi itu pendidikannya kurang, status sosialnya rendah, kurang berhubungan dengan agen pembaru, dan ciri-ciri ini sama dengan ciri-ciri orang yang tergolong terlambat dalam mengadopsi inovasi. Orang yang merasa sangat terikat atau punya ikatan kuat dengan kelompok akan merasa lebih terdorong untuk merubah kepercayaan atau tingkahlakunya jika kelompok menginginkan. Dalam sebuah sistem sosial biasanya unit adopsi menyetujui keputusan atasannya dan mengharapkan hubungan baik dengannya. Dalam situasi kompliansi, perubahan-perubahan tingkah laku biasanya temporer dan memerlukan pengawasan terus agar perubahan itu tetap berlangsung.

Jika seseorang ingin memperbesar kemungkinan terjadinya adopsi, saluran komunikasi harus dimanfaatkan dalam urutan waktu yang ideal. Pertamakali menggunakan media massa kemudian diikuti dengan saluran interpersonal. Karena orang-orang yang yang dikenal lebih inovatif cukup dipergunakan saluran media massa, sedangkan mereka yang kurang inovatif dengan menggunakan saluran intrpersonal.

Saluran komunikasi interpersonal memiliki ciri dan sifat yang berbeda dengan saluran media massa dalam membawa pesan dan mempengaruhi audiens. Namun kombinasi dari keduanya merupakan cara yang sangat efektif dalam memperkenalkan ide-ide baru kepada masyarakat dan mempengaruhi mereka agar mempergunakan inovasi-inovasi tersebut. Perpaduan kedua bentuk komunikasi itu disebut forum media. Dimana beberapa anggota masyarakat diorganisasikan dalam suatu kelompok yang bertemu secara teratur  untuk menerima program-program media massa dan menidskusikan isinya. Media massa yang digabungkan dengan forum intrpersonal itu bisa bermacam-macam : radio, televisi, suratkabar, bulletin, internet, dan lain-lain.

Kebanyakan orang tidak pernah membayangkan apa yang akan terjadi dalam tahun 2000, atau Milenium ini, tetapi sebagian kecil orang telah mengetahuinya. Yang mereka ketahui, saat ini adalah era globalisasi informasi. Berbicara tentang informasi tentu tidak terlepas dari peranan IPTEK. Mampukah masyarakat menghadapi dampak IPTEK yang menghadang setiap negara tanpa menghiraukan kemampuannya sebagai negara berkembang (terbelakang), ataupun sebagai negara industri?

Yang jelas, sekarang pandangan orang terutama orang Indonesia telah berubah, dunia memang hanya selebar daun kelor, dengan teknologi komunikasi di segala bidang. Hanya dengan informasi yang diterima   sesaat, dunia dapat berubah pada saat itu.

 

Buku Referensi

  1. Peter Zorkoczy, 1988, Teknologi Informasi, Elex Media Komputindo, Jakarta.
  2. Astrid S. Susanto, 1977, Komunikasi Kontemporer, Bina Cipta, Jakarta
  3. ———————, 1993, Globalisasi Dan Komunikasi, Sinar Harapan, Jakarta.
  4. Onong Uchjana Effendy, 2004, Ilmu Komunikasi Teori Dan Praktek, Remadja Karya, Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: