Beranda » ARTIKEL » TEKNIK KOMUNIKASI DAKWAH DALAM MASYARAKAT MODERN DAN MULTIKULTURAL

TEKNIK KOMUNIKASI DAKWAH DALAM MASYARAKAT MODERN DAN MULTIKULTURAL

TEKNIK KOMUNIKASI DAKWAH

DALAM MASYARAKAT MODERN DAN MULTIKULTURAL

Disampaikan pada DAUROH KADER ULAMA PONDOK PESANTREN SESUMBAGSEL, 24 FEBRUARI 2008 di Palembang

 

PENDAHULUAN

Secara etimologi istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin yakni Communicare. Artinya : berbicara, menyampaikan pesan, informasi, pikiran, perasaan, gagasan dan pendapat yang dilakukan oleh seorang kepada yang lain dengan mengharapkan jawaban, tanggapan atau arus balik (feedback)

Komunikasi adalah pernyataan antar manusia”, seperti yang didefinisikan oleh Adinegoro.[1] Sedangkan menurut Ilmu Sosiologi komunikasi adalah pernyataan antar manusia itu, sebagai salah satu bentuk perwujudan daripada interaksi sosial. Dengan demikian di dalam komunikasi terdapat adanya proses saling hubung-menghubungi,  diantara manusia.

Hubungan antar manusia menurut Syariat Islam adalah sebagai dasar yang pokok untuk melangsungkan kehidupan ini secara harmonis. Hal itu dapat dilihat  dari kandungan ajaran Islam sendiri. Komunikasi merupakan perintah  Allah SWT yang terdapat dalam Kitab Suci AL Qur’an serta Sunnah Rasullullah Nabi Besar Muhammad SAW. Sebagai contoh dalam Kitab Suci AL Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13 disebutkan dalam Firman Allah SWT yang artinya:

“Hai manusia! Sesungguhnya Kami telah jadikan kamu dari laki-laki dan perempuan dan kami telah jadikan kamu beberapa bangsa dan golongan, supaya kamu berkenal-kenalan. Sesungguhnya semulia-mulia  kamu di sisi Allah ialah yang sebakti-baktinya dari antara kamu. Sesungguhnya Allah itu yang mengetahui  yang sadar”

Selanjutnya dalam Hadist Nabi dinyatakan :”Berkomunikasilah dengan masyarakat dengan memperhatikan daya tanggap (frame of reference dan field of experience).

Komunikasi sebagai suatu proses yang terdiri dari Komunikator, orang yang menyampaikan pesan itu sendiri (message), dan orang yang menerima pesan (komunikan). Dalam proses komunikasi inilah terdapat ketiga unsur komunikasi itu. Bila komunikasi dikaitkan dengan tujuan komunikasi yang berkeinginan untuk mengubah ide, persepsi, pendapat, sikap dan tingkah laku pihak lain maka akan sama dengan tujuan orang berda’wah. Da’wah yang artinya mengajak adalah berusahan menyebarkan alam pikiran manusia kepada ideology tertentu. Sehingga komunikasi dalam Islam ialah mengajak umat manusia dengan hikmah kebijaksanaan untuk mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-NYA.[2] Karena tanpa komunikasi kehidupan ini tidak ada, maka komunikasi sangat penting artinya bagi makhluk hidup khususnya manusia. Komunikasi merupakan kebutuhan mendasar untuk mempertahankan hidup tanpa komunikasi manusia tidak dapat memperoleh makan dan perlindungan atau pakaian

TEKNIK KOMUNIKASI DAKWAH

Pekerjaan komunikasi da’wah ini adalah pekerjaan pokok ummat manusia yang Muslim dan tidak bisa tidak harus dilaksanakan dimana saja berada sesuai dengan keahlian dan kesanggupannya masing-masing. Secara spesifik dakwah diartikan sebagai aktifitas menyeru atau mengajak dan melakukan perubahan kepada manusia untuk melakukan kema’rufan dan mencegah dari kemungkaran.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka aktifitas dakwah dapat berhasil secara optimal jika didukung dengan strategi dakwah. Dakwah sebagai proses komunikasi terdiri dari Juru Dakwah atau yang disebut juga Mubalig, Umat manusia yang heterogin, lingkungan atau dimana dakwah dilaksanakan, media dakwah apa yang dipilih, dan tujuan dakwah. Dakwah dapai dilakukan langsung bertatap muka, maupun tidak langsung menggunakan media. Agar tujuan dakwah tercapai maka diperlukan adaptasi bahasa dan budaya atau adat istiadat yang dianut masyarakat.

Sementara teknik komunikasi yang dapat dilakukan dalam dakwah adalah informatif, persuasif, dan coersif. Pertama-tama diinformasikan apa yang menjadi hak dan kewajiban, diajak untuk menjalaninya, dan diberikan sanksi jika melanggar perintahNYA.  Dalam penyampaiannya menggunakan bahasa seharihari yang mudah difahami masyarakat luas, jika perlu menggunakan bahasa-bahasa gaul terkini, apalagi dalam menghadapi masyarakat modern yang multikultural. Audiensnya datang dengan latar belakang yang heterogin.

Yang terpenting membangun kerukunan antar budaya, kemudian menjelaskan masalah sterotip antar suku yang harus saling menjaga untuk kebersamaan. Disinilah diperlukan hal yang terpenting untuk membangun kerukunan antar budaya. Mengingtkan persatuan adalah kekuatan besar. Jika persatuan ini memudar maka akan mengancam kekuasaan, tapi jika sebaliknya dapat memperkuat kekuasaan. Oleh karena itu dalam teknik komunikasi dakwah perlu :

1. Mengenali sasaran komunikasi

Sebelum melancarkan komunikasi, kita perlu mempelajari siapa-siapa yang akan menjadi sasaran kita. Yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah:

a. Kerangka referensi

Pesan komunikasi yang akan disampaikan kepada komunikan harus disesuaikan dengan kerangka referensi (frame of reference), maksudnya adalah bahwa ketika kita akan memberikan pesan harus memperhatikan siapa yang menjadi komunikan kita, sehingga mereka mereka dapat memahami apa yang kita sampaikan. Kerangka referensi seseorang akan berbeda dengan orang lain, ada yang berbeda secara ekstrim seperti antara murid SD dengan seorang mahasiswa atau seorang petani dengan seorang diplomat, intinya kita harus mengetahui siapa yang kita ajak bicara.

b. Faktor situasi dan kondisi

Yang dimaksudkan adalah situasi komunikasi pada saat komunikan akan menerima pesan yang kita sampaikan. Situasi yang dapat menghambat jalannya komunikasi dapat diduga sebelumnya, dapat juga datang tiba-tiba pada saat komunikasi dilancarkan.

Sedangkan yang dimaksudkan kondisi adalah state of personality komunikan, yaitu keadaan fisik dan psikis komunikan pada saat ia menerima pesan komunikasi. Komunikasi yang kita lakukan tidak akan efektif apabila komunikan sedang marah, sedih, bingung, lapar, sakit, dan lain sebagainya.

Untuk mengatasi hal semacam itu kita dapat memperhatikan komunikasi kita sampai datangnya suasana yang menyenangkan. Akan tetapi tidak jarang pula komunikasi tetap dilakukan pada saat itu juga, disini faktor manusiawi sangat penting.

 

 

2. Pemilihan media komunikasi

Pemilihan media komunikasi juga sangat menentukan keberhasilan efektifitas dan efisiensi komunikasi yang dilakukan, apakah media elektronik, media letak, bisa juga dengan media tradisional seperti kentongan, bedug, pagelaran kesenian, atau media yang sudah modern seperti telepon, telegraf, pamflet, poster, spanduk, dan lain-lain.

Untuk mencapai sasaran komunikasi kita dapat memilih salah satu gabungan dari beberapa media, bergantung pada tujuan yang akan dicapai, pesan yang akan disampaikan dan teknik yang akan dipergunakan.

3. Pengkajian tujuan pesan komunikasi

Aktivitas komunikasi dikatakan berhasil jika pesan yang disampaikan oleh komunikator dapat dipahami secara benar oleh komunikan. Untuk itu paling tidak ada dua hal yang harus dipersiapkan secara matang dalam melakukan pengkomunikasian, hal tersebut yaitu:

a) Fokus pesan (what to say)

b) Cara atau pendekatan dalam menyampaikan (how to say)

Semakin sederhana dan simpel pesan yang disampaikan meski yang disampaikan kompleks, maka semakin besar kemungkinan audiens memahaminya.

4. Pesan komunikator dalam komunikasi

Ada faktor yang penting pada diri komunikator apabila ia melancarkan komunikasi, yaitu:

a. Daya tarik sumber

Komunikan bersedia taat pada isi pesan yang disampaikan oleh komunikator apabila komunikator ikut serta atas apa yang telah disampaikan, sehingga dengan kata lain komunikan merasa ada persamaan dengan komunikator. Disitulah seorang komunikator dikatakan berhasil karena dapat merubah opini, sikap dan perilaku komunikan.

b. Kredibilitas sumber

Faktor kedua yang dapat menyebabkan komunikasi berhasil adalah kepercayaan komunikan pada komunikator.

Berdasarkan kedua faktor tersebut, seorang komunikator dalam menghadapi komunikan harus bersikap empirik (empathy)

 

MENGHADAPI MASYARAKAT MODERN MULTIKULTURAL

Kultural atau Budaya atau kebudayaan adalah spesifik manusiawi. Manifestasi dan perwujudan dari segala aktivitas manusia sebagai upaya untuk memudahkan dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebudayaan terdiri dari nilai dan simbol. Nilai-nilai budaya itu tidak kasat mata, sedangkan simbol budaya yang merupakan perwujudan nilai itulah yang kasat mata. (Kuntowijoyo, 2002). Masjid, pasar, sekolah, rumah misalnya adalah perwujudan dari nilai-nilai budaya masyarakatnya. Setiap perwujudan aktivitas manusia nilai-nilai budaya senantiasa hadir dan semua punya nilai budaya, walau terkadang tidak merupakan simboi budaya.

Dikaitkan denga Dakwah,  adalah panggilan atau seruan bagi umat manusia menuju jalan Allah, yaitu jalan menuju Islam. Sebagai dinullah, Islam bersumber dari wahyu Allah dan Sunnah Rasul-NYA, ia merupakan sumber nilai yang akan memberikan corak, warna dan bentuk kebudayaan Islam. Suatu bentuk kebudayaan yang berisikan pesan atau nilai-nilai islami (menurut kacamata Al Qur’an dan As-Sunnah), sekalipun ia muncul dari orang atau masyarakat bukan penganut dinul-islam. Demikian juga sebaliknya, tidak dikatakan budaya Islam, walau ia lahir dari orang atau masyarakat penganut dinul-islam, jika tidak memuat pesan atau nilai-nilai Islami. Dakwah adalah kewajiban setiap muslim yang harus dilakukan secara berkesinambungan, yang bertujuan akhir mengubah perilaku manusia berdasarkan pengetahuan dan sikap yang benar.

Dalam perspektif dakwah Islam, budaya atau kebudayaan adalah aktualisasi dari sikap tunduk (ibadah atau peribadatan) manusia kepada Allah. Salah satu analog yang menunjukkan simbol  sdan nilai budaya sebagai sikap tunduk pada Allah, tertera dalam Al Qur’an surat  ASY SYUAARA [26] ayat 224-227:

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah, dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan (nya)?, kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali”. (QS.Asy syuaara/26:224-227).

Ayat di atas mennginformasikan, ada dua jenis budaya yang diwakili oleh sosok pelakunya. Pertama Budaya yang dibangun dengan dimensi TAQWA yang diwakili oleh sosok pelaku budaya yang beriman , beramal shaleh, dan senantiasa berdzikir mengingat Allah serta sabar menghadapi kezaliman.

Jika disepakati bahwa budaya itu spesifik manusiawi, maka pengaruh ideologi, pandangan hidup, sikap hidup, , dan cara berpikir pelaku atau peletak budaya itu menjadi nilai dasar dari bentuk budaya tersebut.

Dengan demikian seseorang yang memiliki keshalehan individual dan keshalehan sosial dalam dirinya, tentu akan melahirkan jenis budaya yang juga beroreintasi memudahkan jalan orang lain atau masyarakat untuk menjadi shaleh (al Khair al Ummah). Seseorang yang berlatar belakang ideologi komunis atau kapitalis, misalnya, tentu juga akan menampilkan bentuk budaya dengan orientasi dan cara berpikir ideology dimasud dalam membangun tatanan masyarakatnya. Terkait dengan fungsi dakwah dalam tatatan budaya masyarakat (transhistoris), Muhammadiyah mengedepakan dua fungsi dakwah, yaitu FUNGSI KERISALAHAN dan FUNGSI KERAHMATAN.

Fungsi Kerisalahan adalah berarti meneruskan tugas Rasulullah SAW (Q.S. Al Maidah ayat 67) menyampaikan Dinul Islam kepada Seluruh Ummat Manusia (Ali Imran 104, 110 dan114). Dakwah dalam konteks ini adalah suatu proses alih nilai (transfer of value) yang dikembangkan dlm. rangka perubahan tingkah laku, termasuk tingkah laku budaya. Misalanya dari prilaku budaya TBC menjadi prilaku budaya bertauhid.

Fungsi Kerahmatan adalah berarti upaya menjadikan (mengejawantah, mengaktualkan, mengoperasionalkan) Islam sebagai rahmat (pensejahtera, pembahagia, pemecahpersoalan) bagi seluruh manusia (Q.S.Al Anbiyah 107) . Dakwah pada tataran fungsi ini adalah upaya menjadikan Islam sebagai sumber konsep bagi manusia dalam meniti kehidupannya didunia. Usha menterjemahkan nilai-nilai normatif Islam menjadi konsep-konsep yang operasional di berbagai aspek kehidupan manusia. Termasuk juga implementasi konsep-konsep tersebut dalam kehidupan aktual manusia, baik individu, keluarga, dan masyarakat.

Setiap muslim dalam pandangan konsepsi Dakwah Islam, adalah Da’i (para penyeru perubahan) dalam budayanya masing-masing, oleh sebab itu selayaknya seorang muslim itu mengakrualisasikan fungsi dakwah tersebut di atas, untuk membangun budaya yang beradab, mencerahkan, berkemajuan, dan dan diridhoi oleh Allah SWT. Allahu ‘alam bishshawwab. Bentuk dakwah yang efektif adalah dengan memberikan contoh teladan (dakwah bilhal), karena sasaran akan lebih mudah dan lebih cepat menyerap nilai – nilai Islam melalui contoh konkret

Keberhasilan dakwah akan berbanding lurus dengan keikhlasan pendakwah dalam menyampaikan dakwahnya, pengorbanannya (materi, tenaga dan waktu) dalam berdakwah

Betapa besar peranan inovasi di dalam dunia modern, menuni peran dan fungsi pendidikan yang luar biasa untuk melahirkan manusia-manusia yang inovatif.

Fokus

Konsep fokus. Konsep ini menyatakan adanya kecenderungan di dalam kebudayaan ke arah kompleksitas. Berbagai kekebudayaan memberikan penekanan kepada suatu aspek tertentu misalnya kepada aspek teknologi, aspek kesenian seperti daiam kebudayaan Bali, aspek perdagangan, dan sebagainya. Teknologi menyingkirkaan budaya-budaya yang ada.

Seperti di Indonesia, Dunia Barat yang telah lama memberikan fokus kepada kemampuan akal, menekankan kepada pembentukan intel tualisme di dalam sistem pendidikannya. Dengan demikian aspek aspek kebudayaan yang lain seperti nilai-nilai moral, lembaga-lembaga budaya yang primer seperti keluarga, cenderung mulai diabaikan Ikatan dalam lembaga keluarga mulai longgar, peraturan-peraturan: seks mulai dilanggar dengan adanya kebebasan seks dan kebebasan pergaulan. Sistem pendidikannya dengan demikian telah terpisah atau teralienasi dari totalitas kebudayaan. Pendidikan dapat memainkan peranan pen­ting di dalam terjadinya proses perubahan yang sangat mendasar ter­sebut tetapi juga yang dapat menghancurkan kebudayaan itu sendiri.

Krisis

Timbul krisis yang menjurus kepada hancurnya sendi-sendi ke­hidupan orisinil. Lihat saja kepada krisis moral yang terjadi pada generasi muda yang, diakihatkan oleh masuknya nilai-nilai budaya Barat yang belum serasi dengan kehidupan budaya yang ada. Keluarga mengalami krisis. peranan orang tua dan pemimpin mengalami krisis. Krisis kebudayaan tersebut akan lebih cepat dan intens di dalam era kornunikasi yang pesat.

Krisis dapat menyebabkan dis-organisasi sosial misalnya dalam gerakan reformasi total kehidupan. Bangsa Indonesia dewasa ini di dalam memasuki era reformasi mcnghadapi suatu era yang kritis karena masyarakat mengalarni krisis kebudayaan. Apabila gerakan reformasi tidak diarahkan scbagai suatu gerakan moral maka gerakan tersebut akan kehilangan arah. Gerakan reformasi akan menyebabkan krisis sosial, krisis ekonomi dan berbagai jenis krisis lainnya. Oleh sebab itu gerakan reformasi total dewasa ini perlu diarahkan dan dibimbing oleh nilai-nilai moral yang hidup di dalam- kebudayaan bangsa Indonesia. Peranan pendidikan sangat menentukan karena pendidikan yang didasarkan kepada nilai-nilai moral bangsa dalam jangka panjang akan mernantapkan arah jalannya reformasi tersebut. Dalam jangka panjang pendidikan akan menen­tukan pencapaian tujuan dari reformasi itu.

Visi masa depan

Tanpa visi yang jelas yaitu visi yang berdasarkar nila:-nilai yang hidup di dalam kebudayaan bangsa Indonesia, akat stilit untuk menentukan arah perkembangan masyarakat dan bangsa kita ke masa depan, atau pilihan lain ialah tinggal mengadopsi saja apa yang disebut budaya global. Mangadopsi budaya global tanpa dasar yang-kuat berarti manusia Indonesia akat kehilangan identitasnya. Di sinilah letak peranan pendidikan nasiona untuk meletakkan dasar-dasar yang kuat dari nilai-nilai budaya yan hidup di dalam masyarakat Indonesia yang akan dijadikan fondasi untuk mernbentuk budaya masa depan yang lebih jelas dan terarah.

KESIMPULAN

            Dakwah dalam masyarakat modern multikultural, harus selalu berisi rumusan ulang masalah SARA, dan memperbaiki cara pandang umat karena jika tidak maka konflik antar budaya mulai terulang lagi. Kebijakan multibudaya perlu ditanamkan dan dikembangkan sebagai hal yang harus dihadapi bersama. Pendidikan multi budaya dapat menciptakan SDM yang unggul yang mampu bergaul dan dapat mensukseskan pembangunan dunia Internasional. Dakwah melalui tatap muka, media cetak, radio, televisi, dan media online dengan menghadirkan dakwah in action. Tujuannya membendung kekufuran, mengembangkan sosial budaya yang islami melalui semua aspek kehidupan.

Maka akibat dakwah yang dilakukan akan menjadikan DeStandarisasi keanekaragaman materi dakwah, Hidup sehat dari Lingkungan belum sehat, Sadar Hukum mengurangi yang  masih melecehkan hukum, Sadar untuk tidak korupsi, para koruptor masih juga melecehkan hukum yang ada, karena hukum di negara kita lemah jadi orang tidak jera untuk tetap korupsi

Rujukan

Hamzah Ya’cub, 1973, Publisistik Islam, Diponegoro, Bandung, hal.9.

Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Jakarta, Kencana, 2004.

Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, Bandung, PT Remaja Rosda Karya, 2007.

Ton Kertapati, 1968, Dasar-Dasar Publisistik, Soeroengan, Jakarta, hal.4


[1] Ton Kertapati, 1968, Dasar-Dasar Publisistik, Soeroengan, Jakarta, hal.4

[2] Hamzah Ya’cub, 1973, Publisistik Islam, Diponegoro, Bandung, hal.9.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: